Preface

Dunia riset adalah dunia yang penuh warna. Tulisan-tulisan yang tersaji dalam blog ini merupakan hasil sintesa dari beragam sumber informasi seputar dunia riset dan pengalaman-pengalaman penulis sebagai seorang praktisi riset di bidang pemasaran dan komunikasi.

Seperti yang dikatakan oleh Sir Isaac Newton …I am standing on the shoulder of giants…untuk mengakui bahwa pemikiran-pemikiran yang dihasilkannya diinspirasikan oleh ilmuwan-ilmuwan sebelum dirinya, demikian jugalah pemikiran-pemikiran yang dicurahkan oleh penulis dalam blog ini. Penulis tidak dapat mengklaim bahwa tulisan-tulisan pada blog ini merupakan pemikiran orisinil penulis sendiri, orisinalitas di era ketersediaan dan kemudahan mendapatkan informasi saat ini merupakan …hil yang mustahal… demikian gurau yang sering dilontarkan oleh pelawak kawakan Asmuni.

Penulis sangat bersukacita dapat berbagi pengetahuan dan menjadi sumber inspirasi bagi para pembaca yang mengunjungi blog ini. Tidak ada larangan untuk mengutip sebagian atau seluruh isi tulisan dalam blog ini namun penulis memohon dengan segala kerendahan hati agar mencantumkan nama penulis dan alamat blog ini.

Terima kasih atas kunjungannya, selamat menikmati pikiran-pikiran bersahaja dari saya

13 thoughts on “Preface

  1. pasti donk pak… setuju. Ngomong-ngomong soal penulisan, sebenarnya ga beda dengan aturan penulisan karya ilmiah… dan saya yakin mayoritas pembaca di blog ini pernah menulis sebuah karya ilmiah, setidaknya membacanya. Itu khan “kode etik” banget…:)

  2. Tapi sangat disayangkan, belum lama saya menemukan sebuah blog yang mengcopy paste tulisan saya tentang etnografi, dia hanya mengganti judulnya, isinya sama persis. Saya sudah submit comment tapi tidak didisplay/diapprove… ya sudah mau dibilang apa semoga dia tidak mengulangi lagi perbuatan tidak beretika tersebut

  3. Wuehehe..akhirnya bisa juga dapet domain sendiri. Gitu dong Har..Nah, ini designnya juga udah diganti..better than beforelah. Sekarang tinggal postingannya aja yang banyak..abis itu nanti kita diskusikan lagi..hehe..Maju terus Har..

  4. Dunia riset, survei, atau apa pun, adalah dunia gelap bagi saya. Tak paham saya. Metodologi riset itu hal antah berantah.

    Dasar pemalas, sebagai user saya sering ingin langsung liat presentasi (yang sudah simplified) dan interpretasi — juga: rekomendasi. Haha, Anda pasti tahulah kebiasaan saya dulu.😀

  5. Tapi saya tidak berpandangan demikian Mas. Dulu Mas Tyo salah satu klien kami yang “tidak sulit” cepat memahami dan memaklumi keterbatasan dari sajian kami.

    Makanya saya ingin menyibak “kegelapan” itu, melalui blog ini. Itu pun kalau dirasa begitu oleh pembaca.

    Btw, saya sangat terinspirasi oleh gaya penulisan Mas Tyo, rasa bahasanya sangat khas, kapanpun saya menemukan tulisan Mas Tyo jika disajikan secara anonim pun, saya bisa membauinya.

    Terima Kasih atas kunjungannya Mas.

    Note : buat pembaca, Paman Tyo ini adalah salah satu blogger senior Indonesia, beliau telah berblogging ria sejak tahun 2001. Silahkan mengunjungi kediaman virtualnya…

  6. mas Zebua, bisa minta bantuan ide?
    saya masih baru dibidang penelitian, belum cukup pengalaman dan sangat mohon bantuan.

    saya mau mengadakan penelitian tentang setuju atau tidaknya pembangunan sebuah pasar modern “diatas” pasar tradisional.
    mungkin saya langsung share disini aja?
    begini, dibulan November 2007 di kota Pangkalpinang Provinsi Kep. Bangka Belitung sedang “panas2” kontroversi mengenai pembangunan Bangka Trade Center (BTC). nah saya mau melakukan survei/jajak pendapat warga kota tentang pembangunan BTC tersebut.
    data yang tersedia:
    Jumlah kecamatan ada 5
    jumlah penduduk 169.556 jiwa.
    kira2 metode penelitiannya gimana, pemilihan sampel,dll.

    saya bingung harus “berkunjung” kemana.

    terima kasih sekali permohonan saya dapat diterima.

    salam

  7. Halo bung Arief Z,

    Z nya kepanjangan dari Zebuakah? He..he..siapa tahu Anda se-nenek moyang dengan saya. Senang sekali rasanya kembali mendapat teman dari luar pulau Jawa, sebelumnya ada Pak La Ode Aman dari Palu.

    Bung Arief, jika masalah yang Anda hadapi saat ini sangat urgen misalnya menyangkut nasib para pedagang kecil/tradisional dan Anda mencoba mengetuk hati para pejabat pemerintahan dan kaum kapitalis di Bangka Belitung maka pilihannya mau tidak mau melakukan polling alias jajak pendapat! Selain cepat dalam sisi waktu, Anda juga tidak perlu menyiapkan instrumen penelitian yang rumit.

    Hanya saja memang agar hasil polling Anda bisa “berteriak” keras, Anda harus melakukan penarikan sampel secara random. Pengumpulan datanya bisa ditempuh dengan dua cara : 1. Melalui telesurvei (lewat telepon) 2. Melalui home visit (Anda dan tim langsung “memungut” pendapat masyarakat kota Bangka di kediaman mereka).

    Untuk tehnik yang pertama dari sisi dana mungkin agak ringan, Anda hanya perlu membayar biaya percakapan telepon dan tenaga telesurveinya. Kerangka sampelnya juga sudah jadi, tinggal merandom dari buku pemilik telepon terbaru (residensial, tidak termasuk nomor milik perusahaan/pemerintah). Tapi daya generalisasinya rendah, karena secara teori sampling hanya akan mewakili pemilik telepon yang cenderung adalah kaum berpunya

    Cara kedua jelas bisa diklaim mewakili “suara” warga Bangka secara “utuh”. Hanya saja secara waktu agak lama, biaya besar (karena Anda akan butuh banyak tenaga lapangan) dan butuh persiapan yang agak “rumit”, khususnya pembuatan kerangka Sampel. Kan maha sulit rasanya mendapatkan nama dan alamat ke 169.556 warga ke 5 kecamatan tersebut. Mau tidak mau Anda harus melakukan penarikan sampel berlapis (multistage). Pertama Anda merandom kelurahan/desa di 5 kecamatan tesebut, dari kelurahan terpilih Anda merandom lagi RW-nya dari RW terpilih Anda merandom lagi RTnya, lalu dari RT terpilih Anda sudah dapat membuat kerangka sampel yang berisi nama-nama warga yang berusia di atas 17 tahun misalnya. Dari kerangka sampel inilah Anda melakukan lagi penarikan sampel random terakhir untuk memilih responden yang akan diwawancarai.

    Jadi kembali lagi ke dana penelitian yang Anda dan tim miliki. Anda bisa tetap menggunakan cara kedua yang lebih “baik” di atas meskipun dananya terbatas, dengan cara mengurangi jumlah sampel, misalnya dengan budget yang Anda miliki saat ini jika menggunakan metode 1 bisa untuk 1000 responden, tapi jika menggunakan metode 2 hanya bisa untuk 500 responden, tidak apa karena sampling errornya (SE) tidak terlalu selisih. Dengan tingkat kepercayaan 95% dan jumlah sampel 1000 maka SE nya sebesar +/- 3.1% dan jumlah sampel 500, SE nya +/- 4.3%.

    Tapi percayalah bahwa SE itu “hanya teori”, Anda harus lebih memperhatikan yang namanya non sampling error (bisa dibaca pada tulisan saya terbaru), jika Anda bisa mengatasinya maka yakinlah hasil penelitaan Anda akan sangat mendekati kenyataan yang sebenar-benarnya.

    Demikan Bung Arief, jika masih kurang tercerahkan saya tetap terbuka untuk diskusi lagi…

    Salam

  8. Terima kasih sekali atas tuntunannya..
    yang sering menjadi kendala saya adalah dari mana saya harus memulai.
    setidaknya atas masukan ini saya punya titik awal untuk melakukan penelitian.

    Oia mas, Z adalah huruf yang unik…hehe. semoga Z nya bisa jadi dorongan bagi saya.😀

    terima kasih..terima kasih..

  9. masalahnya adalah bagaimana aktivitas riset dapat merespon kondisi aktual dari sebuah bisnis; dalam waktu yang tidak terlalu lama. selama ini di dalam aktivitas riset, “terlalu banyak yang harus dikerjakan”: klien menunggu, antre, karena jadwal riset begitu banyak. apakah situasi ini khas terjadi di berbagai tempat? atau mungkin disebabkan kesadaran dan prioritas unit riset di sebuah perusahaan masih dianggap sepele, sehingga infrastruktur maupun jumlah SDM lantas minim.

  10. Mas Dehawe yang mungkin sedang dikecewakan oleh unit risetnya😀

    Merespon kondisi aktual dari dinamika bisnis merupakan keharusan setiap aktivitas riset, karena dimensi kekinian dan relevansi adalah harga mati bagi sebuah aktivitas riset kalau tak ingin hasilnya keburu “basi” dan menyesatkan pengambil keputusaan.

    Tapi apa yang “dikeluhkan” oleh Mas Dehawe sepertinya sedang saya alami juga saat ini. Banyak klien kami (internal) yang mengeluhkan kelambatan kami dalam mengeksekusi riset untuk produk mereka. Tapi apa daya saya hanyalah “buruh” yang harus mengiyakan permintaan majikan saya ketika harus menepikan riset sebuah produk “kecil” karena produk yang disebut sebagai “tulang punggung” ingin segera diriset juga. Hal ini bukanlah kesalahan atau arogansi si “tulang punggung”, tapi lebih kepada paradigma berpikir si majikan yang mungkin “menyepelekan” ketersediaan infrastruktur dan terutama jumlah SDM yang layak bagi sebuah unit riset.

    Penyepelaan infrastruktur maupun jumlah SDM bisa jadi karena unit riset di suatu perusahaan statusnya “antara ada dan tiada”, bisa jadi eksistensinya hanyalah sebagai daya penguat image perusahaan, agar orang luar melihat betapa hebatnya perusahaan tersebut, mampu memiliki sebuah divisi riset dan pengembangan.

    He..he., jadi curhat nih😛

    Salam

  11. mas hari apa kabar??
    wah dah lama neh mas, masih kenal ga?? aku wennie dl jadi asisten statsos bareng yogo n ono.
    waduh masih berkutat sama dunia riset yah mas?? hebat deh
    lagi cr artikel riset eh kebuka blog mas hari, hehehe
    bagus2 tulisannya sangat membantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s