PUASA, “RATING”, DAN MATINYA AKAL SEHAT

Artikel ini ditulis oleh Effendi Gazali, pengajar dan peneliti program pascasarjana Komunikasi UI, pernah dimuat di harian KOMPAS pada tanggal 29 September 2006

Tidak banyak yang menyadari bahwa rating (pengukuran khalayak) TV dilakukan dengan cara dieksplor terus bagian-bagiannya sampai ukuran sampel 100-pada tingkat kepercayaan 95 persen. Padahal, sebetulnya sinetron dengan rating 9,8 relatif sama saja dengan acara (misal: TVRI) yang konon mendapat rating nol!

Itulah antara lain sisi-sisi hakiki dari kecerdasan membaca rating (ratings literacy) yang belum terlihat dipegang terus oleh mereka yang merasa telah mengenal dan mempergunakan rating sehari-hari, sebagaimana terungkap pada semiloka nasional Opini Publik terhadap Rating TV & Menggagas Rating Alternatif” di Jakarta, 16 September 2006.

Pada contoh di atas, toleransi kesalahan sampling untuk ukuran sampel 100 adalah plus-minus 9,8. Padahal, fakta dari pengakuan sejumlah produser, jika terdapat kenaikan rating 0,1 saja mereka sudah dipuji dan mungkin diberi bonus. Di samping membayangkan betapa “maha kuasa”-nya rating, kita juga harus membayangkan proses matinya akal sehat, yang terpana pada kenaikan 0,1 dibandingkan dengan toleransi kesalahan plus-minus 9,8!

Pada posisi data belum dibedah untuk eksplorasi status sosial-ekonomi atau jender dan sebagainya pun, misalnya untuk sampel 400, toleransi kesalahannya masih 4,9. Atau masih hampir 50 kali lipat selisih kenaikan 0,1 tadi.

Inilah, sekali lagi, penggunaan rating yang keliru oleh para pembuat dan penyusun program TV, yang dikenal dengan irrationality of rationality. Masih ditambah lagi kesan mencampuradukkan penggunaan toleransi kesalahan sampling pada ukuran sampel individu (contoh jumlah sampel 400) untuk memberi inferensi (kesimpulan) pada satuan analisis rumah tangga (misalnya 100)!

Ini kesalahan validitas eksternal sangat serius. Padahal, yang terjadi barangkali hanya proses random multi-tingkatan yang berujung pada kelompok rumah tangga, di mana anggota-anggotanya dijadikan responden individual.

Semiloka itu sendiri sangat pas waktu dan penyelenggaraannya. Tepat waktu, karena sekitar Ramadhan kita harapkan praktisi media dan periklanan bisa berpikir lebih jernih. Ini terbukti dari perubahan total wajah TV kita yang mendadak menjadi amat religius. Hanya pada bulan puasa rasanya praktisi TV kita relatif mampu mengubah programnya dan kemudian rating dipaksa mengikuti perubahan tersebut. Pada sebelas bulan lainnya, terasa betul programlah yang berubah-ubah karena mengikuti tren rating.

Tepat penyelenggaranya, karena acara ini digagas dan dilaksanakan bersama oleh Badan Informasi Publik dengan wakil-wakil delapan departemen/jurusan ilmu komunikasi/TV (UI, Unpad, Unair, USU, UGM, Unhas, Undip, IKJ), TV Club Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia, dan Lingkar Muda Indonesia (himpunan intelektual dn penulis muda Kompas). Jadi ini semacam asosiasi komprehensif masyarakat sipil yang bekerja sama dengan badan negara serta pemerintah di bidang terkait.

Sadari kelemahannya

Semiloka tersebut maupun bulan puasa ini dapat kita jadikan modal untuk memelihara akal sehat. Bahwa, rating adalah pelayan yang digunakan untuk kehidupan bermedia yang lebih baik dan bukan sebagai majikan kita (mengutip makalah Pinckey Triputra PhD, pakar metodologi UI). Apalagi disadari berbagai metode rating secara umum memiliki kelemahan tertentu.

Metode atau alat peoplemeter, walau disebut-sebut sebagai “tercanggih” karena bisa mengukur langsung (real time) bahkan detik-per-detik, memiliki kelemahan-kelemahan fundamental juga. Alat ini tersambung ke televisi di rumah responden dan sistem pencatatannya (mestinya) terhubung ke pusat penerimaan dan pengelolaan data di perusahaan rating.

Pada alat ini terdapat beberapa tombol, masing-masing untuk ayah, ibu, anak pertama, kedua, dan seterusnya. Setiap kali menonton, responden harus menekan tombol (umumnya disebut check in) dan habis menonton juga mesti menekan tombol (check out). Bayangkan, setiap responden harus menekan tombol sebelum dan sesudah menonton TV selama sekitar (maksimum) dua tahun! Ini yang disebut bias karena button pushing fatique.

Bagaimana kalau seorang responden menekan tombol tanda awal menonton lalu menerima telepon, meninggalkan ruangan, atau yang sedang terkenal sekarang TV ritualism? Artinya, TV dinyalakan cuma karena ritual menjadi teman untuk mengetik di depan komputer atau bersenda gurau.

Belum lagi kalau tombol memang ditekan sebagai tanda awal menonton lalu si responden tertidur. Maka, semua program di saluran TV tertentu dianggap ditonton oleh responden (dengan asumsi itu tayangan yang menarik tentunya). Pada beberapa riset, ketika peoplemeter dilengkapi dengan kamera di sekitar pesawat TV, terlihat kadang-kadang respondennya tertidur pulas di sofa dan hanya seekor anjing yang melirik aneh ke pesawat TV.

Tentu saja perusahaan rating mengatakan akan melakukan upaya-upaya untuk mengurangi kelemahan. Misalnya dengan mencurigai dan kemudian menganulir data menonton di satu saluran TV (saja) yang terlalu panjang, karena respondennya barangkali tertidur. Tapi, bukankah masalah TV ritualism atau meninggalkan ruangan (ambil contoh: tiga puluh menit, yang tentu tidak dicurigai) masih tetap akan luput dari berbagai upaya perbaikan itu?

Jangan lupa, jika tidak setiap individu memiliki tombol dan pesawat TV masing-masing, maka bias kebiasaan dan relasi kuasa di dalam rumah tangga itu menjadi faktor penentu. Misalnya, seorang ibu paling berkuasa menentukan apa yang ditonton di rumah dan ia pencinta berat sinetron, maka mereka yang tak suka sinetron tak punya kesempatan (melalui tombolnya) untuk mengatakan ia ingin menonton sepak bola atau berita.

Masalah esensialnya: seberapa tepat rumah tangga dengan karakter seperti ini dianggap mewakili populasinya (sampai pada populasi penonton TV di sejumlah kota). Apalagi, uniknya, hasil rating kemudian umumnya dinyatakan pada satuan analisis individual. Seolah bias-bias dalam rumah tangga seperti itu pantas diabaikan sama sekali karena yang diukur toh apa yang riil tampil di layar pesawat TV di rumah tersebut.

‘Rating’ alternatif

Bagaimana memandang persoalan ini ke depan, baik untuk memperbaiki kelemahan metodologis ataupun cara pandang terhadap rating?

Di Amerika Serikat, tahun 1963, DPR bahkan menjadi sangat skeptikal terhadap metodologi rating. Mereka lalu melaksanakan serangkaian dengar pendapat untuk menyelidiki prosedurnya. Hasil dari dengar pendapat tersebut, praktisi penyiaran membentuk the Electronic Media Rating Council (EMRC) untuk mengakreditasi perusahaan-perusahaan rating. EMRC secara teratur mengontrol apakah kinerja perusahaan rating sesuai dengan standar yang mereka tetapkan.

Tentu Indonesia berbeda dengan Amerika. Namun, 12 elemen tersebut di atas (sedapat mungkin ditambah YLKI dan pihak-pihak lain yang diharap berminat, seperti ATVSI dan PPPI) bisa duduk bersama menjadi supervisi dari sebuah sistem rating alternatif yang akan digagas 12 elemen tadi. Lembaga pelaksananya akan dinamakan Transparan (Telaah Rating dan Analisis Pendapat Khalayak Penyiaran). Berbagai pemangku kepentingan ini akan mengadakan dengar pendapat dengan DPR.

Rating alternatif sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan perusahaan yang telah dan sedang melayani Indonesia. Mereka juga telah berjasa membuat industri media kita bekerja berdasar prinsip-prinsip ilmiah.

Rating alternatif justru akan melengkapi baik dari segi metode maupun sebagai perbandingan. Lebih dari itu, upaya ini harus menekankan pula pada proses yang transparan dan bisa disupervisi bersama, serta pada membangun kesadaran bagaimana membaca rating dengan akal sehat. Kalau rencana berjalan lancar, uji coba akan dilakukan di Jakarta, dan mungkin juga Bandung. DPR dan pemerintah perlu mendukungnya, paling tidak untuk enam bulan, sebelum kita lihat minat dari berbagai bagian industri media untuk juga mendukungnya.

Semoga berkah puasa membuat kita berpikir lebih jernih, mau mengubah prinsip menjadi majikan dan bukan pelayan dari rating. Bukankah kita juga merindukan kembalinya terus bulan Ramadhan, karena acara-acara televisinya yang relatif nyaman ditonton?

Biarlah rating yang nanti mengikuti dan mengukur program-program (di semua bulan) nan menghibur serta mencerdaskan lahir dan batin itu! Kecuali kita mau tetap menjalankan irrationality of rationality….

One thought on “PUASA, “RATING”, DAN MATINYA AKAL SEHAT

  1. Terima kasih atas karya-karyanya yang sangat membantu saya menambah dan membuka pengetahuan tentang riset. semoga dapat terus berkarya, ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s