DASAR-DASAR POLLING (Bagian 1)

Dua dari tiga lelaki Jakarta berselingkuh…satu dari dua cowok Jakarta ngeduain atau lebih…tujuh dari sepuluh perempuan Indonesia memakai Kotex….mayoritas masyarakat Indonesia mendukung pembubaran STPDN… 

Penggalan-penggalan kalimat di atas merupakan kesimpulan/interpretasi dari kegiatan polling yang diselenggarakan oleh sejumlah media massa di Jakarta dan propaganda iklan dari sebuah produsen produk pembalut wanita. Beberapa pernyataan tersebut mungkin sudah tidak asing dan telah sering kita dengar. 

Mungkin kita masih mengingat peristiwa naas yang menimpa seorang praja STPDN Jatinangor  yang tewas dianiaya oleh para seniornya, sebelum kasus Cliff Muntu. Pada saat peristiwa tersebut mencuat dan menjadi berita utama pada hampir seluruh media masa nasional baik cetak maupun elektronik, berbagai reaksi dari masyarakat bermunculan. Polling-polling yang diselenggarakan oleh berbagai media massa terutama media elektronik, dalam hal ini televisi menunjukkan mayoritas responden mendukung pembubaran STPDN. Apalagi setelah ditayangkannya video ekslusif bertajuk “Di balik tembok STPDN” oleh SCTV, dukungan terhadap pembubaran STPDN semakin besar. Sejumlah kalangan dari STPDN baik praja maupun staf pengajar menuduh SCTV berat sebelah dalam menampilkan citra STPDN. Namun pihak SCTV bersikukuh telah berusaha menayangkan peristiwa STPDN tersebut seobjektif mungkin.

Tayangan khusus ini didukung oleh polling yang dilakukan oleh SCTV melalui SMS. Hasilnya luar biasa, selama kurang lebih 4 jam berhasil didapatkan respon dari lebih dari 30.000 pesan dan 93% pesan-pesan tersebut mendukung program yang telah ditayangkan oleh SCTV. Sepengetahuan saya, ini adalah polling langsung terbesar dalam sejarah kegiatan polling di televisi. 

Lalu apa yang dapat kita kritisi dari ilustrasi di atas? Sudahkah ilustrasi tersebut merupakan contoh dari suatu kegiatan polling yang benar, sesuai dengan kaedah-kaedah ilmiah? Dapatkah hasil polling tersebut diinterpretasikan sebagai suara masyarakat Indonesia yang secara mayoritas mendukung SCTV dalam menayangkan acara “Di Balik Tembok STPDN” ? 

Tulisan sederhana ini akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tulisan ini bukan merupakan pembahasan teoritis tentang polling, tetapi lebih pada sebuah tulisan populer yang mencoba memberi pengenalan dan membuka wawasan kita tentang polling secara umum, sehingga diharapkan kita dapat lebih kritis dalam menelaah berbagai hasil polling, yang saat ini semakin gencar dilakukan oleh berbagai pihak.  

Polling Sebagai Media Untuk Menggali dan Mengekpresikan Suara Hati Masyarakat? 

Polling atau yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai jajak pendapat, bagi sebagian orang mungkin tidak jauh berbeda dari penelitian-penelitian biasa yang sering dilakukan oleh lembaga-lembaga riset independen, profesional maupun pemerintah. Pendapat tersebut tidak salah, karena polling memang merupakan salah satu bagian dari tehnik pengumpulan data dalam metode penelitian survei. 

Polling memiliki kekhasan tersendiri. Kekhasan polling terletak pada kesederhanaan masalah yang diangkat. Polling tidak melakukan pengujian teori seperti yang biasanya dijalankan secara ketat pada penelitian-penelitian yang bersifat akademik. Analisis hasil polling umumnya bersifat deskriptif, tidak melibatkan analisis dengan perhitungan-perhitungan statistik kompleks dan ngejlimet sehingga mengakibatkan ketergantungan terhadap puyer sakit kepala. 

Expired date hasil polling umumnya singkat, hanya berlaku pada saat suatu topik/permasalahan sedang ramai dan hangat dibicarakan. Sehingga hasil polling tidak dapat digunakan untuk menyelesaikan masalah dan memberi masukan pada pengambilan kebijakan-kebijakan yang bersifat strategis. Sebagai konsekuensi dari kekhasannya tersebut, polling tidak membutuhkan waktu lama dalam pelaksanaannya, sehingga instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data cukup ringkas dan sederhana, serta umumnya  bersifat closed ended question. Kekhasan-kekhasan polling di atas mungkin menimbulkan keraguan terhadap fungsi dan manfaat polling. 

Seperti yang dikemukakan oleh Eriyanto dalam bukunya “Metodologi Polling, Memberdayakan Suara Rakyat”, polling dilakukan untuk mengetahui bagaimana pendapat yang berkembang di tengah-tengah masyarakat terhadap suatu fenomena, gejala, isu, atau peristiwa. Polling merupakan sarana untuk mengetahui pendapat umum, menggali dan mengungkapkan berbagai hal yang tersembunyi dalam benak masyarakat. 

Namun untuk mengklaim suatu hasil polling sebagai suatu pendapat masyarakat tidaklah mudah, ada persyaratan-persyaratan ketat yang harus dijalankan dan sejumlah rambu-rambu yang harus dipatuhi.   

Polling Ilmiah Versus Polling Non Ilmiah

Fungsi dan manfaat polling dapat optimalkan apabila dilakukan berdasarkan kaedah-kaedah ilmiah. Polling dapat menghasilkan suatu hal yang berarti dan bermanfaat. Namun polling dapat juga disalahgunakan untuk memperjuangkan kepentingan-kepentingan kelompok atau individu tertentu. Untuk memaksimalkan manfaat suatu polling, ada beberapa sarat minimal yang harus dipenuhi di antaranya : 

  • Polling harus dilakukan secara independen dan tidak mengusung kepentingan-kepentingan kelompok atau individu tertentu
  • Permasalahan/topik yang diangkat dalam suatu polling sebaiknya bersifat umum, aktual, dan memiliki kemungkinan besar diketahui oleh publik secara luas
  • Mereka yang berpartisipasi dalam suatu polling harus merupakan representasi dari masyarakat di mana polling diselenggarakan. Sebagai konsekuensinya, pemilihan calon responden harus dilakukan secara acak sesuai dengan tehnik penarikan sampel  secara probability.
  • Instrumen pengumpulan data harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mengarahkan jawaban responden
  • Sebaiknya tehnik pengumpulan data dipilih cukup satu saja, jangan digabungkan dengan tehnik lainnya.
  • Faktor-faktor non sampling error harus diminimalisir semaksimal mungkin. 

Sarat-sarat di atas merupakan sarat minimal untuk membuat suatu polling dapat dikategorikan sebagai polling yang ilmiah. Polling yang dilakukan dengan mengikuti sarat-sarat minimal di atas, hasilnya pasti dapat dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Polling non ilmiah biasanya mengabaikan hampir keseluruhan persyaratan di atas. Polling ini hanya sekedar untuk memberi efek bombastis dan memuaskan keingintahuan pihak yang melakukannya, atau dapat juga didasari oleh motif mengikuti trend.

Polling non ilmiah memiliki bias yang tinggi dan hasilnya tidak dapat diproyeksikan ke tingkat yang lebih luas (dalam hal ini masyarakat). Contoh yang paling sederhana adalah polling-polling yang dilakukan melalui telepon dan internet. Mereka yang berpartisipasi dalam polling-polling ini adalah mereka yang memilik inisiatif sendiri (proaktif). Polling yang dilakukan dengan benar seharusnya memilih calon responden secara acak  bukan calon responden yang mengajukan diri menjadi peserta polling. bersambung… 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s