Zebua

CASE OF MULTISTAGE RANDOM SAMPLING

In Quantitative, Sampling on Agustus 25, 2008 at 1:29 am

Penarikan sampel secara random berdasarkan banyaknya langkah yang harus ditempuh dapat dibagi atas 2 kategori, yaitu : simple random sampling dan multistage random sampling. Simple random sampling adalah teknik sampling yang hanya memerlukan cukup 1 tahapan dalam penarikan sampel. Sedangkan multistage random sampling adalah teknik sampling yang memerlukan minimal 2 tahapan penarikan sampel. Teknik sampling yang termasuk kategori simple random adalah simple random dan systematic random sampling. Sedangkan yang termasuk kategori multistage random adalah stratified random sampling, cluster random sampling dan kombinasi antara keduanya.

 

Pada kesempatan ini saya akan membahas teknik penarikan sampel secara multistage dengan contoh kasus dari sebuah perusahaan riset multinasional yaitu : Nielsen Media Research Indonesia (NMRI) saat melakukan mega survei yang sangat kondang, survei Media Index.

 

Survei Media Index ini telah dilakoni oleh NMRI sejak tahun 1976, dengan cakupan wilayah pada saat pertama kali dilakukan sebanyak 10 kota utama di Indonesia. Dan sejak tahun 2003 hingga saat ini kota-kota yang disurvei ada sebanyak 12 kota utama, mencakup : Jakarta, Botabek, Surabaya, Gerbangkertasila, Medan, Bandung, Semarang, Jogyakarta, Sleman-Bantul, Palembang, Makassar, dan Denpasar.

 

Survei Media Index dilakukan dengan wawancara tatap muka (face to face) di kediaman responden (home visiting), pria atau wanita, berusia minimal 10 tahun dengan total responden sebanyak 13.300 (dilakuan secara periodik setiap 3 bulan). Adapun informasi yang digali adalah : detil data kepembacaan (readership), demografi dan sosio ekonomi, resume data media usage, penetrasi penggunaan peralatan rumah tangga (household durables), penggunaan dan pembelian beragam produk (product usage), dan gaya hidup (psikografis).

 

Tahapan yang ditempuh oleh NMRI untuk mendapatkan responden terpilih (unit observasi) ada sebanyak 4 tahap penarikan sampel. Merupakan kombinasi dari cluster random sampling dan simple random sampling. Berikut adalah bagan penarikan sampel yang dilakukan NMRI :

Bagan di atas dapat ditafsirkan sebagai berikut :

  • NMRI menyusun daftar Rukun Tetangga (RT) dari 12 kota terpilih
  • Setelah daftar disusun dilakukan penarikan sampel secara sederhana dengan teknik sistematik di masing-masing kota tujuannya adalah untuk membentuk primary sampling unit (PSU). Satu unit PSU terdiri dari sejumlah RT, misalnya 50 RT. Artinya jika terdapat 100.000 RT maka jumlah PSU yang terbentuk adalah 2000
  • Selanjutnya dilakukan penarikan sampel secara sederhana yang kedua masih dengan teknik sistematik. Sepertinya prinsip yang digunakan adalah prinsip cluster random sampling. Prinsip cluster menyebutkan bahwa variasi antar cluster (PSU) sangat kecil, alias cenderung homogen. Sedangkan variasi di antara anggota PSU (RT) cenderung tinggi, alias heterogen. Misalnya, populasi masyarakat Indonesia secara status ekonomi dapat kita bagi dalam kelas bawah, menengah dan atas. Maka setiap PSU yang terbentuk harus terdiri dari 3 kelas tersebut sehingga PSU manapun yang terpilih secara random kelak dapat merepresentasi populasi. Jika sebuah PSU hanya terdiri dari kelas menengah dan atas maka hasil survei tidak akan menggambarkan masyarakat Indonesia secara utuh
  • PSU yang telah terpilih di tahap II merupakan basis untuk survei Media Index. Di masing-masing PSU kembali dilakukan penarikan sampel random secara sistematik sehingga didapatkan sejumlah rumah tangga (household)
  • Tahap berikutnya adalah melakukan penarikan random secara sistematik untuk terakhir kalinya di masing-masing rumah tangga, namun yang diikutsertakan dalam penarikan hanyalah anggota keluarga yang telah berusia minimal 10 tahun. Anggota keluarga terpilih inilah yang kemudian diminta untuk menjawab ratusan pertanyaan dalam sebuah angket yang terdiri dari puluhan halaman.

 

Deskripsi penarikan sampel di atas bukanlah versi resmi dari NMRI, saya hanya mencoba menafsirkan dari bagan yang telah dipublikasikan secara umum berdasarkan pemahaman saya tentang konsep penarikan sampel. NMRI sendiri tidak pernah memaparkan secara detil teknik penarikan sampelnya, sama seperti mereka menyembunyikan teknik proyeksi untuk menggeneralisasi hasil surveinya.

 

  1. Ulasan yang sangat menarik bung..! Thanks! :)

  2. trims. sekuali
    t o p dah.

  3. Yaahowu…

    Salam kenal

  4. Mo minta dijelasin ni…sejauh mana kita boleh mengkombinasi berbagai teknik sampling yang ada? apa ada batasan yang ga boleh dilewati?
    nuwun ;)

    Halo bung sugieh. Pengkombinasian teknik sampling dilakukan jika peneliti menghadapi populasi yang kompleks/heterogen. Semakin heterogen sebuah populasi semakin banyak tahapan penarikan sampling yang dilalui. Jadi batasannya adalah homogenitas dari populasi, kalau kita sudah berhasil meng”homogen”kan populasi berarti tahapan penarikan sampel sudah sampai pada tahap akhir yaitu simple random sampling. Sebanyak apapun tahapan penarikan sampel (multistage random sampling) ujungnya pasti berakhir dengan teknik simple random atau systematic.

    Semoga membantu

  5. masih aktif terus pak Zebua? masih ingat dg saya? waktu belajar SPSS di LPM UI.

    Salam Mas Hermawan, of course saya masih ingat Anda, tutor handal dalam bidang statistika baik teoritis maupun aplikasi, dan jago SPSS. Saya sangat banyak menyerap ilmu dari Mas Hermawan dan berguna banget saat diaplikasikan dalam mendukung pekerjaan saat masih menjadi researcher. Saya sekarang bukan peneliti lagi, sudah dimutasi menjadi marketing planner, bidang baru, mulai belajar lagi. Tapi saya ngga mungkin ngelupain dunia riset dan statistika. Salah satu komitmennya ya membuat blog ini tapi belakangan saya keteteran karena dibidang baru ini saya masih belajar sehingga menyita banyak waktu, jadi blog ini tidak terurus.

    Keep in touch Pak! Siapa tahu suatu saat kelak ntah kapan saya dapat kesempatan kembali mengabdi di Kampus tercinta :-)

  6. hm, penafsiran yang cukup terperinci. multistage dengan cara menggerombolkan langsung ke level RT untuk membentuk unit sampling (PSU) memang cukup ringkas, jika cukup lengkap tersedia data/frame sampai level RT. namun perlu di perhatikan, kondisi demografis indonesia di lapangan sangat dinamis, cenderung sulit ketersediaan data sampai level RT dengan pasti dan tepat, kadangkala sampai level desa saja sudah banyak perubahannya/pemekaran. menurut saya level terrendah untuk dijadikan PSU lebih tepat sampai level desa/kelurahan. alur skema dalam rangka menangkap keragaman dengan maksimal untuk survei tingkat kota adalah : bagi wilayah kota menjadi rural/urban, stratifikasikan level di bawah kota yaitu kecamatan alokasikan sejumlah sampel secara proporsional, pilih secara sistematis desa/kelurahan (PSU), pilih secara sistematis RT, pilih KK, pilih responden (perhatikan Gender : gunakan kishgrid).

    best regard
    sukanta