Beberapa waktu lampau saya pernah menulis soal non sampling error yang saya juluki sebagai “the silent killer”. Kemunculannya dalam sebuah riset acap kali tak disadari oleh peneliti. Non sampling error bekerja bagai racun arsenik yang tidak berasa, tidak berbau dan tidak bewarna namun sangat mematikan. Karena berpotensi besar menghasilkan riset yang menyesatkan. Salah satu jenis non sampling error yang termasuk dalam kategori respondent error adalah respondent fatigue. Respondent fatigue merupakan suatu kondisi hilangnya antusiasme atau mood responden saat mengikuti sebuah riset (khususnya dengan metode survei).
Adalah proses wawancara yang terlalu lama acap kali dituduh sebagai penyebab respondent fatigue. Prof. Agus dari Prasetya Business School mengingatkan agar wawancara jangan berlangsung lebih dari 20 menit. Namun sejumlah rekomendasi menyebutkan angka 30, 45, dan maksimal 1 jam untuk satu kali wawancara. Sepertinya memang tidak ada standar baku untuk menenentukan lamanya waktu wawancara dalam sebuah kegiatan riset.
Beberapa waktu lalu dalam milis riset pemasaran, kami membahas soal ini, responden fatigue. Beberapa member menanggapi topik tersebut berdasarkan pengalaman empirik yang pernah mereka alami. Umumnya mereka setuju jika waktu untuk melakukan wawancara jangan terlalu lama. Pak Sukardi Arifin (Majalah Marketing) menyebutkan angka 45 menit sebagai waktu maksimal untuk melakukan wawancara. Karena berdasarkan pengalaman beliau dan timnya baik di Survey One maupun Frontier Marketing and Research Consultant, jika lebih dari 45 menit semenarik apapun pertanyaannya konsistensi dan antusiasme responden akan drop!
Sedikit berbeda, Pak T.S. Lim (moderator milis riset pemasaran) mengatakan bahwa bukan lamanya wawancara yang menyebabkan responden mengalami kelelahan, tetapi usaha yang harus dikeluarkan oleh responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan si peneliti. Kalau yang ditanyakan adalah hal yang pasti-pasti , misalnya seputar kegiatan responden sehari-hari (berapa kali mandi dalam sehari, pakai sabun atau tidak, pakai pelembab atau tidak, pakai sampo atau tidak, dll.), responden dapat mentolerir wawancara hingga sekitar 1 jam bahkan lebih. Namun jika pertanyaannya bersifat abstrak, atau attitudinal demikian ditambahkan oleh Aditya (Senior RE, Research International, Singapore) misalnya tentang brand image, brand personality, pyscographics statements, atribute rating, dll., maka responden akan cenderung mengalami kelelahan meskipun waktu wawancara tidak terlalu lama. Hal ini dikarenakan pertanyaan-pertanyaan tersebut menguras pikiran responden, ibarat orang yang mengikuti ujian sekolah/kuliah.
Sebenarnya ada sisi positif jika responden yang kita wawancarai sampai terkuras pikirannya saat mengisi kuesioner, berarti dia serius dan antusias terhadap riset tersebut. Daripada responden yang bertipe EGP (emang gue pikirin) yang menjawab asal-asalan, apalagi jika diawal sudah diiming-imingi akan mendapat hadiah menarik!
Para pakar riset pemasaran ini kemudian berbagi tips untuk mengatasi masalah respondent fatigue. Beberapa tips tersebut adalah :
- Perhatikan lokasi wawancara. Sebaiknya wawancara dilakukan di rumah responden apalagi jika banyak pertanyaan yang sifatnya attitudinal. Di rumah, responden akan merasa lebih santai dan tidak terburu-buru. Jika waktu dan dana terbatas, sehingga menuntut peneliti untuk melakukan wawancara secara intercept (wawancara yang dilakukan di ruang-ruang publik, mal, sekolah, kafe, toko buku, dll.) maka jangan coba-coba menanyakan banyak pertanyaan yang sifatnya attitudinal, karena umumnya responden punya tujuan khusus mengunjungi tempat-tempat tersebut. Dan yang pasti bukan untuk diwawancara!
- Perhatikan susunan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat attitudinal sebaiknya ditanyakan sesegera mungkin. Jika diletakkan di belakang, maka berpotensi besar tidak dijawab oleh responden atau dijawab alakadarnya karena responden mulai mengalami kelelahan seiring dengan berjalannya waktu.
- Efektifkan pertanyaan. Seringkali peneliti tidak percaya diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit, biasanya hal ini dikarenakan si peneliti ingin memastikan bahwa semua aspek yang diteliti harus tercakup. Sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika peneliti menggunakan landasan teori yang kuat, dan melakukan pre-test sebelumnya. Landasan teori yang kuat membantu peneliti untuk memastikan instrumen penelitiannya hanya mengukur konsep yang relevan dengan masalah penelitian. Pre test akan membantu peneliti mengeliminir pertanyaan-pertanyaan yang tidak mengukur konstruk dengan baik, dengan uji realibilitas misalnya. Pre test juga membantu peneliti memperbaiki dan menyempurnakan readaksional pertanyaan agar pertanyaan-pertanyaan yang dituangkan dalam kuesioner mudah dipahami oleh responden. Pak Mahyudanil dari PQM, menyarankan agar kuesioner diujikan pada office boy atau orang-orang yang berpendidikan rendah. Jika orang-orang ini saja mampu mengerti pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut apalagi responden yang tingkat pendidikannya lebih tinggi.
Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk mengatasi responden fatigue, terutama dari Pak Sukardi Afirin, misalnya : penggunaan show card, pemilihan pewawancara yang enak dilihat (good looking), pembatasan jumlah responden yang diwawancarai dalam sehari, dll. Namun ketiga solusi di atas sudah merupakan “antibiotik” yang cukup ampuh untuk mengatasi respondent fatigue.
Selamat mencoba!

