Zebua

Archive for Juni 2008

RESPONDENT FATIGUE

In Qualitative, Quantitative, Research Procedure on Juni 23, 2008 at 1:27 am

Beberapa waktu lampau saya pernah menulis soal non sampling error yang saya juluki sebagai “the silent killer”. Kemunculannya dalam sebuah riset acap kali tak disadari oleh peneliti. Non sampling error bekerja bagai racun arsenik yang tidak berasa, tidak berbau dan tidak bewarna namun sangat mematikan. Karena berpotensi besar menghasilkan riset yang menyesatkan. Salah satu jenis non sampling error yang termasuk dalam kategori respondent error adalah respondent fatigue. Respondent fatigue merupakan suatu kondisi hilangnya antusiasme atau mood responden saat mengikuti sebuah riset (khususnya dengan metode survei).

 

Adalah proses wawancara yang terlalu lama acap kali dituduh sebagai penyebab respondent fatigue. Prof. Agus dari Prasetya Business School mengingatkan agar wawancara jangan berlangsung lebih dari 20 menit. Namun sejumlah rekomendasi menyebutkan angka 30, 45, dan maksimal 1 jam untuk satu kali wawancara. Sepertinya memang tidak ada standar baku untuk menenentukan lamanya waktu wawancara dalam sebuah kegiatan riset.

 

Beberapa waktu lalu dalam milis riset pemasaran, kami membahas soal ini, responden fatigue. Beberapa member menanggapi topik tersebut berdasarkan pengalaman empirik yang pernah mereka alami. Umumnya mereka setuju jika waktu untuk melakukan wawancara jangan terlalu lama. Pak Sukardi Arifin (Majalah Marketing) menyebutkan angka 45 menit sebagai waktu maksimal untuk melakukan wawancara. Karena berdasarkan pengalaman beliau dan timnya baik di Survey One maupun Frontier Marketing and Research Consultant, jika lebih dari 45 menit semenarik apapun pertanyaannya konsistensi dan antusiasme responden akan drop!

 

Sedikit berbeda, Pak T.S. Lim (moderator milis riset pemasaran) mengatakan bahwa bukan lamanya wawancara yang menyebabkan responden mengalami kelelahan, tetapi usaha yang harus dikeluarkan oleh responden dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan si peneliti. Kalau yang ditanyakan adalah hal yang pasti-pasti , misalnya seputar kegiatan responden sehari-hari (berapa kali mandi dalam sehari, pakai sabun atau tidak, pakai pelembab atau tidak, pakai sampo atau tidak, dll.), responden dapat mentolerir wawancara hingga sekitar 1 jam bahkan lebih. Namun jika pertanyaannya bersifat abstrak, atau attitudinal demikian ditambahkan oleh Aditya (Senior RE, Research International, Singapore) misalnya tentang brand image, brand personality, pyscographics statements, atribute rating, dll., maka responden akan cenderung mengalami kelelahan meskipun waktu wawancara tidak terlalu lama. Hal ini dikarenakan pertanyaan-pertanyaan tersebut menguras pikiran responden, ibarat orang yang mengikuti ujian sekolah/kuliah.

 

Sebenarnya ada sisi positif jika responden yang kita wawancarai sampai terkuras pikirannya saat mengisi kuesioner, berarti dia serius dan antusias terhadap riset tersebut. Daripada responden yang bertipe EGP (emang gue pikirin) yang menjawab asal-asalan, apalagi jika diawal sudah diiming-imingi akan mendapat hadiah menarik!

 

Para pakar riset pemasaran ini kemudian berbagi tips untuk mengatasi masalah respondent fatigue. Beberapa tips tersebut adalah :

 

  • Perhatikan lokasi wawancara. Sebaiknya wawancara dilakukan di rumah responden apalagi jika banyak pertanyaan yang sifatnya attitudinal. Di rumah, responden akan merasa lebih santai dan tidak terburu-buru. Jika waktu dan dana terbatas, sehingga menuntut peneliti untuk melakukan wawancara secara intercept (wawancara yang dilakukan di ruang-ruang publik, mal, sekolah, kafe, toko buku, dll.) maka jangan coba-coba menanyakan banyak pertanyaan yang sifatnya attitudinal, karena umumnya responden punya tujuan khusus mengunjungi tempat-tempat tersebut. Dan yang pasti bukan untuk diwawancara!
  • Perhatikan susunan pertanyaan. Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat attitudinal sebaiknya ditanyakan sesegera mungkin. Jika diletakkan di belakang, maka berpotensi besar tidak dijawab oleh responden atau dijawab alakadarnya karena responden mulai mengalami kelelahan seiring dengan berjalannya waktu.
  • Efektifkan pertanyaan. Seringkali peneliti tidak percaya diri dengan pertanyaan-pertanyaan yang sedikit, biasanya hal ini dikarenakan si peneliti ingin memastikan bahwa semua aspek yang diteliti harus tercakup. Sebenarnya ini tidak perlu terjadi jika peneliti menggunakan landasan teori yang kuat, dan melakukan pre-test sebelumnya. Landasan teori yang kuat membantu peneliti untuk memastikan instrumen penelitiannya hanya mengukur konsep yang relevan dengan masalah penelitian. Pre test akan membantu peneliti mengeliminir pertanyaan-pertanyaan yang tidak mengukur konstruk dengan baik, dengan uji realibilitas misalnya. Pre test juga membantu peneliti memperbaiki dan menyempurnakan readaksional pertanyaan agar pertanyaan-pertanyaan yang dituangkan dalam kuesioner mudah dipahami oleh responden. Pak Mahyudanil dari PQM, menyarankan agar kuesioner diujikan pada office boy atau orang-orang yang berpendidikan rendah. Jika orang-orang ini saja mampu mengerti pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner tersebut apalagi responden yang tingkat pendidikannya lebih tinggi.

 

Sebenarnya masih banyak lagi tips untuk mengatasi responden fatigue, terutama dari Pak Sukardi Afirin, misalnya : penggunaan show card, pemilihan pewawancara yang enak dilihat (good looking), pembatasan jumlah responden yang diwawancarai dalam sehari, dll. Namun ketiga solusi di atas sudah merupakan “antibiotik” yang cukup ampuh untuk mengatasi respondent fatigue.

 

Selamat mencoba!

GENERALISASI VERSUS TRANSFERABILITY

In Qualitative, Quantitative, Validitas on Juni 16, 2008 at 1:40 am

Bahwa hasil penelitian kualitatif tidak dapat diterapkan atau diberlakukan secara umum dalam cakupan yang lebih luas dianggap sebagai “titik lemah” penelitian kualitatif. “Titik lemah” ini acap kali diserang oleh penganut fanatik aliran penelitian kuantitatif. Namun para peneliti kualitatif tidak menganggap hal tersebut sebagai suatu kelemahan, karena mereka memahami makna keberlakuan suatu hasil penelitian dari sudut pandang berbeda.

Pendekatan kuantitatif sangat mengagungkan konsep generalisasi, yaitu derajat keberlakuan suatu temuan yang diperoleh dari sumber tertentu dalam jumlah terbatas kepada sumber yang lebih besar jumlahnya baik terbatas (finite) maupun tidak (infinite). Konsep generalisasi tidak dapat dipisahkan dari konsep populasi dan sampel, dua konsep yang maha penting dalam pendekatan kuantitatif. Tidak akan ada generalisasi tanpa sampel dan populasi. Generalisasi menjembatani sampel dengan populasi. Populasi merupakan batasan konseptual terhadap sumber-sumber yang diasumsikan mengandung informasi yang relevan dengan masalah penelitian. Generalisasi diperlukan manakala peneliti tidak menggali informasi dari keseluruhan sumber (populasi) melainkan hanya menggali dari sebagian sumber (sampel) yang dipilih berdasarkan kaidah-kaidah probabilistik dalam ilmu statistika. Sehingga ketika peneliti kuantitatif menemukan bahwa sampel berbentuk trapesium maka dia berkeyakinan dalam derajat tertentu populasi penelitiannya juga berbentuk trapesium, bukan lingkaran, bukan bujur sangkar, bukan persegi panjang apalagi kubus.

Sebaliknya, peneliti kualitatif tidak ambil pusing apakah hasil penelitiannya berlaku secara umum atau tidak. Karena bukan generalisasi yang menjadi tujuan utama penelitian kualitatif. Namun bukan berarti hasil penelitian kualitatif tidak dapat “digeneralisasi”. Hasil penelitian kualitatif dapat “digeneralisasi”, hanya saja tidak “segampang” generalisasi dalam penelitian kuantiatif. Peneliti kualitatif menggunakan istilah transferability yang merujuk pada konsep keberlakukan suatu hasil penelitian dalam situasi atau konteks tertentu.

Lalu apa bedanya konsep generalisasi dengan transferability? Sebelum membahas perbedaannya kita cermati dahulu persamaannya. Generalisasi dan transferability memiliki tujuan yang sama yaitu memberlakukan hasil penelitian pada populasi, konteks, situasi, kondisi yang lebih besar, identik, umum dan luas. Sedangkan perbedaan kedua konsep ini terletak pada makna dan syarat keberlakuan suatu hasil penelitian. Generalisasi mengandung makna penyamarataan, pemukulrataan. Jika sebuah penelitian kuantitatif menemukan korelasi kuat dan signifikan secara statistik antara frekuensi pemasangan iklan dengan peningkatan sales maka bagi peneliti kuantitatif temuan ini berlaku bagi siapapun yang ingin meningkatkan sales suatu produk, caranya gampang, perbanyaklah beriklan. Generalisasi mengatasi dimensi ruang dan waktu. Namun tidak demikian halnya dengan konsep transferability. Transferability mengandung makna pentrasferan, atau pemindahan. Jika sebuah penelitian kualitatif menyimpulkan bahwa pelanggan yang tidak puas terhadap suatu produk belum tentu mengurangi konsumsi terhadap produk tersebut atau menghentikannya sama sekali. Maka peneliti kualitatif tidak serta merta mengklaim bahwa penemuan tersebut berlaku secara umum dan luas. Kesimpulan ini dapat ditransfer atau diberlakukan pada situasi atau konteks tertentu jika situasi atau konteks tersebut identik dengan situasi atau konteks dimana temuan tersebut diperoleh. Misalnya kesimpulan di atas didapatkan setelah melakukan wawancara mendalam dan diskusi dengan beberapa pengguna telepon selular. Mereka tetap loyal meskipun tidak puas dengan produk ataupun pelayanan operator karena malas bergonta-ganti nomor hp. Kesimpulan ini tidak dapat ditransfer ke konteks pelanggan majalah atau koran misalnya. Karena konteks pengguna telepon selular berbeda dengan konteks pelanggan majalah atau koran.

Generalisasi mensyaratkan kesempatan yang sama bagi setiap sumber informasi (sampel) ketika dipilih dari kumpulan total sumber informasi (populasi), syarat ini dikenal dengan istilah syarat keacakan atau random. Selanjutnya berdasarkan kaidah-kaidah statistika yang sistematik, ketat, dan mapan dapat ditentukan derajat keberlakuan suatu kesimpulan yang diperoleh semata dari sampel terhadap populasi yang lebih besar dan luas. Sedangkan transferability mensyaratkan pendeskripsian yang detil, rinci dan holistik terhadap konteks, situasi, ataupun latar belakang dari sekumpulan sumber informasi sehingga pihak lain dapat memberlakukan kesimpulan yang dihasilkan dari sumber informasi tersebut jika menemui konteks, situasi ataupun latarbelakang yang identik.

Jika generalisasi dengan penuh percaya diri dapat mengklaim suatu kesimpulan penelitian berlaku kapanpun, dimanapun dan dalam situasi apapun maka transferability menyerahkan sepenuhnya pada penilaian pihak lain, apakah kesimpulan suatu penelitian dapat diberlakukan pada situasi atau kondisi tertentu. Si peneliti hanya perlu menyediakan penjelasan yang detil, rinci dan holistik tentang situasi, kondisi, dan latar belakang sumber informasi (sampel) selanjutnya terserah pada keyakinan si penilai…