Zebua

RUNTUHNYA DOMINASI AGB NIELSEN MEDIA RESEARCH

In Communication Research, Marketing Research, Quantitative on Maret 6, 2008 at 1:40 am

Kecaman, hujatan, kritikan terhadap rating televisi memang tidak akan pernah berhenti. Salah satu kecaman serius terhadap rating televisi, seperti yang pernah dikemukakan oleh pakar komunikasi politik UI sekaligus sebagai penasehat kepresidenan Rebublik Baru Bisa Mimpi, Effendi Gazali Ph.d (KOMPAS, Jumat, 29 September 2006) adalah sumbangsih rating televisi terhadap matinya akal sehat para pelaku industri televisi nasional. Rating yang seharusnya menjadi pelayan malah mengambil posisi sebagai majikan, program-program televisi nasional seperti kerbau dicucuk hidung melenggak-lenggok mengikuti tren rating! Walhasil bertebaranlah program-program rendah mutu penumpul intelektualitas pemirsa televisi.

Namun para pelaku industri televisi selalu berkelit terhadap kecaman tersebut dengan alasan klasik, kami tidak punya pilihan! Rating televisi dianggap sebagai satu-satunya instrumen ilmiah untuk mengukur tingkat popularitas sebuah program televisi. Semakin populer sebuah program televisi semakin besar pula peluangnya dilirik oleh pengiklan, yang juga berarti peluang besar fulus mengalir deras. Predikat “satu-satunya” tidak hanya disematkan pada instrumen, tapi juga pada penyelenggara rating televisi itu sendiri, yaitu AGB Nielsen Media Research. Lembaga riset multinasional, pemimpin pasar global di industri riset. Bertahun-tahun lamanya Nielsen menjadi penyedia tunggal data rating televisi di seantero dunia, nyaris tak berlawan. Roy Morgan, sebuah perusahaan riset berbasis di Australia sudah berupaya menggemingkan sang “diktator” dengan semangat juang 45 mengkampanyekan metode single source, namun sepertinya tetap tak mampu merebut dan menarik perhatian pelaku industri media dan periklanan.

So, sampai kapan status quo ini akan berlangsung? Sepertinya tidak akan lama! Dominasi Nielsen atas rating televisi akan segera runtuh. Alkisah lembaga riset multinasional yang termasuk dalam 20 besar perusahaan riset di Amerika, Taylor Nelson Sofres bekerja sama dengan TiVo berencana menyelenggarakan pengukuran rating televisi dengan jumlah sampel lebih dari tujuh kali lipat jumlah sampel Nielsen. Saat ini di Amerika, Nielsen menghasilkan rating televisi dari sekitar 14.000 rumah tangga. TNS dan TiVo merencanakan sekitar 100.000 rumah tangga! Jumlah sampel yang maha besar ini menurut pihak TNS membuat data lebih representatif, sehingga dapat menghadirkan informasi lebih dalam mengenai stasiun-stasiun “kecil” yang selama ini cenderung terabaikan. Selain itu, TNS juga mengklaim akan mengukur data kepemirsaan dalam satuan detik alih-alih Nielsen dalam satuan menit.

Lalu apakah rating televisi versi TNS lebih sempurna dari versi Nielsen? Sepertinya tidak, rating televisi versi TNS tetap tidak mampu mendeteksi fenomena TV ritualism. Ritual yang menjadikan televisi hanya sekedar teman pendamping ketika melakukan aktivitas utama, mengetik di depan komputer, mencuci piring atau teman pengantar tidur. Ya, memang tidak ada metode yang sempurna, tapi paling tidak kehadiran rating televisi versi TNS dan TiVo ini bakal membuat persaingan riset kepemirsaan lebih fair.

Anda ingin mengetahui lebih lengkap berita sukacita ini? Silahkan klik disini.

  1. tidak mungkin mas sepertinya TNS ke Indonesia…soalnya mereka dah kong kali kong…saya pernah telepon ke TNS untuk tanya2 peoplemeter (karena merekalah yang memproduksi peoplemeter). Eh…ketahuan deh..mereka bilang di Indonesia sudah ada katanya yang maen..ya Nielsen itu..ck..ck..ck…

  2. Halo mas Achmad. Kita tidak tahu tren ke depannya seperti apa, tapi memang di rimba “pe-rating-ang” siapa yang modalnya kuat dialah yang menang. Saya pernah nanya ke seorang kawan yang bekerja di sebuah agency research di Singapura, kenapa mereka tidak “melawan” hegemoni Nielsen. Jawabannya sederhana, MODAL, alat sejenis peoplemeter itu mahal sekali. Saya juga ngga tahu seberapa mahalnya. Makanya saya sempat optimis ketika mengetahui adanya kerjasama antara TNS dengan TIVO untuk mengakhiri dominasi Nielsen.

    Sekarang mungkin TNS Indonesia belum berniat melakukan pengukuran rating. Tapi siapa yang tahu ke depannya…

    Tapi Nielsen memang sulit di”kalahkan” dalam soal ukur-mengukur rating. Salah seorang petingginya pernah mengeluarkan statement bahwa “idealnya hanya ada satu lembaga rating di satu negara”

    Wow jiwa monopoli sejati!

    Salam rating alternatif!

  3. kita tidak butuh rating.
    itu yang sejak dulu terpikir di kepala saya.
    terlepas dari peliknya sistem rating, orientasi tv swasta terhadap iklanlah yg paling memgang peranan dalam penghancuran kualitas televisi kita.
    semoga pengelola televisi dapat mengubah orientasi tersebut sehingga sistem rating dapat di buang atau mungkin dapat diperbaiki.
    hidup Indonesia

    Sepertinya mustahil menghilangkan rating, selama industri televisi masih menggantungkan hidup pada iklan. Kaum periklanan butuh alat ukur untuk meyakinkan dirinya bahwa dia telah “membuang uang” dengan “benar”. Yang diperlukan sekarang adalah kearifan dalam membaca rating (rating literacy) jadi mari kita dukung kawan-kawan yang berupaya menggagas rating alternatif yang lebih “berkualitas”, tak sekedar angka belaka tapi kemanfaatan acara bagi bangsa kita yang rapuh ini. HIDUP INDONESIA!