Zebua

Archive for Maret 2008

DATA CLEANING DENGAN PRINSIP “CAU”

In Data Processing, Quantitative, Research Procedure on Maret 31, 2008 at 1:26 am

Setelah kegiatan pengumpulan data melalui angket/kuesioner maka proses selanjutnya pada sebuah survei adalah mengolah data tersebut menjadi informasi. Mengolah data berarti melakukan koding, tabulasi dan analisis-analisis statistika yang relevan. Adalah suatu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar bahwa data yang siap olah harus “bersih”, telah divalidasi sehingga kecil peluang akan menghasilkan informasi yang menyesatkan. C.A. Moser dalam bukunya “Survey Methods in Social Investigation” mengemukakan prinsip-prinsip sederhana yang harus dipegang pada saat “bersih-bersih” data yaitu : Completeness, Accuracy, dan Uniformity yang disingkat dalam sebuah akronim, “CAU”!

Completeness

Hal pertama yang harus diperiksa pada sebuah kuesioner adalah kelengkapan. Apakah responden telah mengisi setiap pertanyaan pada kuesioner, tidak ada yang terlewat? Terutama pertanyaan-pertanyaan yang dapat/harus dijawab oleh seluruh responden, alias tidak mengandung syarat. Misalnya usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, alamat, dll. Atau pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mengsegmentasi responden. Misalnya dengan menggunakan metode VALSTM. Metode ini mengharuskan responden untuk merespon seluruh pertanyaan yang diukur menggunakan skala Likert, jika ada satu saja pertanyaan yang tidak direspon akan menggugurkan seluruh pertanyaan lainnya (baca : tidak dapat dianalisis).

Ketidaklengkapan pada sebuah kuesioner umumnya disebabkan oleh faktor non sampling error secara spesifik oleh faktor no response error. No response error terjadi karena responden menolak untuk menjawab, mungkin karena pertanyaan yang terlalu personal, kelelahan (respondent fatigue), atau responden tidak memahami pertanyaan. Jika masih dimungkinkan segera dilakukan konfirmasi kepada responden yang bersangkutan, jika konfirmasi tidak mungkin dilakukan berarti pertanyaan tersebut dapat dikategorikan sebagai missing value, dan ditangani dengan tehnik-tehnik khusus. Karena jika asal diisi sendiri oleh surveyor atau peneliti itu berarti memanipulasi data.

Accuracy

Setelah kelengkapan diperiksa selanjutnya adalah memeriksa keakuratan jawaban-jawaban responden. Keakuratan tidak sama dengan kejujuran. Kejujuran adalah “hak” responden. Tidak mudah medeteksi ketidakjujuran responden. Jika usia sebenarnya seorang responden adalah 40 tahun namun dia menuliskan 30 tahun, maka kita harus menerimanya sebagai “kebenaran” sejauh kita tidak bisa mengklarifikasinya. Sedangkan keakuratan terkait dengan konsistensi dan “kewajaran” dari jawaban-jawaban responden. Mengecek konsistensi lebih mudah daripada mengecek apakah jawaban responden wajar atau tidak.

Misalnya dalam sebuah kusioner ada pertanyaan “apakah anda seorang perokok?”, jika ya “berapa batang rokok yang Anda hisap kemarin?”. Ternyata pada saat diperiksa, responden menjawab “tidak” tetapi memilih pilihan jawaban “a. 1-5 batang” pada pertanyaan selanjutnya. Jelas ini tidak akurat! Alias tidak konsisten. Kemungkinan besar dia sebenarnya adalah perokok, namun salah memilih jawaban pada pertanyaan sebelumnya. Tapi bagaimana jika misalnya seorang yang mengaku pekerjaannya adalah seorang office boy namun berpenghasilan 10 juta rupiah perbulan, alamak hebat kali, kalah gaji senior manager perusahaan menengah! Jawaban ini sepertinya ngga masuk akal, alias ngawur, tapi bagaimana jika seandainya memang demikian, si office boy ternyata punya pabrik tahu :-P Sulit bukan? Karena menilai kewajaran jawaban responden dibutuhkan kepekaan yang tinggi. Jika survei dilakukan secara face to face berarti kita sangat mengandalkan sensitifitas surveyor yang secara reflek mengkonfirmasi kepada responden jika “radarnya” mendeteksi ketidakwajaran pada jawaban responden. Kepekaan surveyor dapat dihasilkan oleh briefing yang baik dan jam terbang yang tinggi. Bagaimana jika dilakukan secara tidak langsung, mail survei misalnya? Ya “terima nasib” karena itu memang kelemahan dari survei yang dilakukan secara swadiri (self administer).

Uniformity

Hal terakhir yang harus diperiksa adalah memastikan surveyor memiliki interpretasi yang sama/seragam terhadap pertanyaan dan instruksi pada kuesioner. Pemahaman yang baik dan seragam terhadap pertanyaan dan instruksi pada kuesioner akan mereduksi bahkan mengeliminasi faktor ketidaklengkapan dan ketidakakuratan. Misalnya dalam sebuah survei ritel (audit ritel), surveyor harus memahami dengan baik kode-kode yang telah disepakati. Jika si penjual mengaku menjual merek “X” namun surveyor tidak melihat fisik barang tersebut dia harus menuliskan kode “TAF”, alias tidak ada fisik. Atau si penjual tidak menjual merek “Y” padahal produk tersebut sangat laris dan dicari banyak orang maka surveyor harus menuliskan “TA” alias tidak ambil. Atau kita mencurigai sebuah produk telah lama ditarik dari pasaran namun surveyor melihat fisiknya maka dia harus menuliskan “AF” alias ada fisik.

Atau contoh lainnya, jika responden mengaku berlangganan sebuah majalah (membayar di muka untuk beberapa edisi sekaligus) maka responden harus dipastikan tidak menjawab pertanyaan apakah dia mengalami kesulitan atau tidak saat mencari majalah tersebut di kios, karena sebagai pelanggan dia tidak perlu harus ke kios karena akan diantarkan ke kediamannya!

Jadi jangan lupa “CAU” agar data tak kacau :-)

RUNTUHNYA DOMINASI AGB NIELSEN MEDIA RESEARCH

In Communication Research, Marketing Research, Quantitative on Maret 6, 2008 at 1:40 am

Kecaman, hujatan, kritikan terhadap rating televisi memang tidak akan pernah berhenti. Salah satu kecaman serius terhadap rating televisi, seperti yang pernah dikemukakan oleh pakar komunikasi politik UI sekaligus sebagai penasehat kepresidenan Rebublik Baru Bisa Mimpi, Effendi Gazali Ph.d (KOMPAS, Jumat, 29 September 2006) adalah sumbangsih rating televisi terhadap matinya akal sehat para pelaku industri televisi nasional. Rating yang seharusnya menjadi pelayan malah mengambil posisi sebagai majikan, program-program televisi nasional seperti kerbau dicucuk hidung melenggak-lenggok mengikuti tren rating! Walhasil bertebaranlah program-program rendah mutu penumpul intelektualitas pemirsa televisi.

Namun para pelaku industri televisi selalu berkelit terhadap kecaman tersebut dengan alasan klasik, kami tidak punya pilihan! Rating televisi dianggap sebagai satu-satunya instrumen ilmiah untuk mengukur tingkat popularitas sebuah program televisi. Semakin populer sebuah program televisi semakin besar pula peluangnya dilirik oleh pengiklan, yang juga berarti peluang besar fulus mengalir deras. Predikat “satu-satunya” tidak hanya disematkan pada instrumen, tapi juga pada penyelenggara rating televisi itu sendiri, yaitu AGB Nielsen Media Research. Lembaga riset multinasional, pemimpin pasar global di industri riset. Bertahun-tahun lamanya Nielsen menjadi penyedia tunggal data rating televisi di seantero dunia, nyaris tak berlawan. Roy Morgan, sebuah perusahaan riset berbasis di Australia sudah berupaya menggemingkan sang “diktator” dengan semangat juang 45 mengkampanyekan metode single source, namun sepertinya tetap tak mampu merebut dan menarik perhatian pelaku industri media dan periklanan.

So, sampai kapan status quo ini akan berlangsung? Sepertinya tidak akan lama! Dominasi Nielsen atas rating televisi akan segera runtuh. Alkisah lembaga riset multinasional yang termasuk dalam 20 besar perusahaan riset di Amerika, Taylor Nelson Sofres bekerja sama dengan TiVo berencana menyelenggarakan pengukuran rating televisi dengan jumlah sampel lebih dari tujuh kali lipat jumlah sampel Nielsen. Saat ini di Amerika, Nielsen menghasilkan rating televisi dari sekitar 14.000 rumah tangga. TNS dan TiVo merencanakan sekitar 100.000 rumah tangga! Jumlah sampel yang maha besar ini menurut pihak TNS membuat data lebih representatif, sehingga dapat menghadirkan informasi lebih dalam mengenai stasiun-stasiun “kecil” yang selama ini cenderung terabaikan. Selain itu, TNS juga mengklaim akan mengukur data kepemirsaan dalam satuan detik alih-alih Nielsen dalam satuan menit.

Lalu apakah rating televisi versi TNS lebih sempurna dari versi Nielsen? Sepertinya tidak, rating televisi versi TNS tetap tidak mampu mendeteksi fenomena TV ritualism. Ritual yang menjadikan televisi hanya sekedar teman pendamping ketika melakukan aktivitas utama, mengetik di depan komputer, mencuci piring atau teman pengantar tidur. Ya, memang tidak ada metode yang sempurna, tapi paling tidak kehadiran rating televisi versi TNS dan TiVo ini bakal membuat persaingan riset kepemirsaan lebih fair.

Anda ingin mengetahui lebih lengkap berita sukacita ini? Silahkan klik disini.