Focus group discussion alias FGD adalah metode sejuta umat! Seandainya dilakukan survei “research method awareness” terhadap para praktisi pemasaran dan periklanan, saya yakin FGD akan meraih tingkat awareness sebesar 99,9%! Namun tingkat awareness yang tinggi belum tentu diikuti dengan pemahaman dan penerapan benar terhadap metode FGD. Selain puja dan puji, metode FGD belakangan ini sering mendapat hujatan dan kritik tajam dari mereka yang merasa enek dan butuh metode alternatif saat melakukan riset kualitatif. Walaupun daftar dosanya semakin panjang tapi tetap saja metode FGD masih menjadi pilihan para praktisi di bidang pemasaran dan periklanan ketika riset kualitatif menjadi pilihan. Saking melekatnya metode FGD dengan pendekatan kualitatif, beberapa orang awam riset menganggap riset kualitatif ya FGD! Qualitative research is FGD, FGD is Qualitative research!
Saya sedang tidak membahas kelemahan metode FGD, saya justru ingin menginformasikan kepada pembaca keberadaan sebuah panduan merancang dan melakukan FGD secara benar berdasarkan prinsip-prinsip ilmiah. Ya, panduan tersebut berupa sebuah buku saku, sangat mungil ukurannya, hanya seukuran 15 cm x 11 cm. Buku yang sangat handy ini dikarang oleh Irwanto Ph.D., seorang dosen dan peneliti di Unika Atmajaya, Jakarta. Diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia, edisi pertama dicetak pada bulan April 2006.
Apa keistimewaan buku ini selain dari bentuknya yang mungil? (…sepengetahuan saya, ini adalah buku tentang metode riset berbahasa Indonesia terkecil yang pernah ada…). Buku ini sangat cocok bagi mereka yang baru mengenal dan ingin mempelajari metode FGD karena bahasanya praktis, lugas, jauh dari bahasa teoritis dan gaya penulisan texbook, namun tidak terlalu cetek bagi mereka yang sudah berpengalaman menggunakan metode FGD. Pertama saya menemukannya, jujur, saya meremehkan buku ini! Sindrom “men-judge the book from it’s cover” menjangkiti saya, karena saya merasa diri sudah “sepuh” dalam metode FGD, saya sudah bertahun-tahun melakoni metode FGD, sudah puluhan mendekati ratusan kelompok FGD yang sudah saya moderatori, dan sudah puluhan juga report yang telah saya hasilkan. Tapi semuanya itu sirna ketika saya membaca lembar demi lembar halaman buku tersebut, saya langsung tersadar beberapa hal-hal prinsip dalam metode FGD yang kadang kala saya abaikan. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
- FGD adalah kelompok diskusi bukan wawancara atau obrolan. Ciri khas metode FGD yang tidak dimiliki oleh metode riset kualitaif lainnya (wawancara mendalam atau observasi) adalah interaksi! Hidup mati sebuah FGD terletak pada ciri ini. Tanpa interaksi sebuah FGD berubah wujud menjadi kelompok wawancara terfokus (FGI-Focus Group Interview). Hal ini terjadi apabila moderator cenderung selalu mengkonfirmasi setiap topik satu per satu kepada seluruh peserta FGD. Semua peserta FGD secara bergilir diminta responnya untuk setiap topik, sehingga tidak terjadi dinamika kelompok. Komunikasi hanya berlangsung antara moderator dengan informan A, informan A ke moderator, lalu moderator ke informan B, informan B ke moderator, dst…Yang seharusnya terjadi adalah moderator lebih banyak “diam” dan peserta FGD lebih banyak omong alias “cerewet”. Kondisi idealnya, Informan A merespon topik yang dilemparkan moderator, disambar oleh informan B, disanggah oleh informan C, diklarifikasi oleh informan A, didukung oleh informan D, disanggah oleh informan E, dan akhirnya ditengahi oleh moderator kembali. Diskusi seperti itu sangat interaktif, hidup, dinamis!
- FGD adalah group bukan individu. Prinsip ini masih terkait dengan prinsip sebelumnya. Agar terjadi dinamika kelompok, moderator harus memandang para peserta FGD sebagai suatu group, bukan orang per orang. Selalu melemparkan topik ke “tengah” bukan melulu tembak langsung ke peserta FGD.
- FGD adalah diskusi terfokus bukan diskusi bebas. Prinsip ini melengkapi prinsip pertama di atas. Diingatkan bahwa jangan hanya mengejar interaksi dan dinamika kelompok, kalau hanya mengejar hal tersebut diskusi bisa berjalan ngawur. Selama diskusi berlangsung moderator harus fokus pada tujuan diskusi, sehingga moderator akan selalu berusaha mengembalikan diskusi ke “jalan yang benar”. Moderator memang dituntut untuk mencairkan suasana (ice breaking) agar diskusi tidak berlangsung kaku, namun kadang-kadang proses ice breaking ini kelamaan, moderator ikut larut dalam “keceriaan” kelompok, ber ha-ha-hi-hi, dan baru tersadar ketika masih banyak hal yang belum tergali, sementara para peserta sudah mulai kehilangan “energi”.
Selain paparan prinsip-prinsip di atas, penulis buku ini juga mengemukakan mitos-mitos seputar FGD dan mematahkannya secara rasional. Misalnya FGD itu cepat dan murah, harus dengan moderator profesional (seperti saya…
), memerlukan fasilitas khusus, peserta harus tidak saling kenal, dan FGD tidak cocok untuk topik-topik yang sensitif. Pembaca akan dituntun secara step by step mulai dari merencanakan, melaksanakan, menganalisis dan membuat laporan hasil FGD.
Pembaca akan diajarkan beberapa tehnik memoderatori FGD (Pak Irwanto menyebutnya sebagai ketrampilan proses), misalnya tehnik blocking, tehnik distribusi, tehnik refocus, dan tehnik reframing. Semuanya disertai dengan contoh-contoh yang mudah diterapkan.
Hanya sangat disayangkan buku ini tidak memberi porsi yang memadai untuk tahapan analisis, padahal menurut saya ini juga merupakan bagian penting dalam metode FGD. Apalagi tidak seperti analisis data kuantitatif yang sangat taat aturan dan sudah terstandardisasi, analisis FGD menggunakan tehnik analisis data kualitatif yang nyaris tidak terstandar dan beragam versinya, dan cenderung bergantung pada jam terbang penelitinya. Pak Irwanto hanya memaparkan langkah-langkah analisis hasil FGD secara umum, tanpa penjelasan yang lebih teknis.
Terlepas dari kekurangan tersebut saya sangat mengapresiasi upaya Pak Irwanto Ph.D untuk mencurahkan setetes air pelepas dahaga di tengah gurun pasir literatur metodologi riset berbahasa Indonesia.


Saya belum baca bukunya Pak Irwanto sich…., tapi sekedar tambahan (kalau belum ada), setahu saya, walaupun FGD merupakan penelitian kualitatif…, yang ga lupa dan musti diperhatikan adalah pemilihan respondennya.
Jangan sampe dalam satu group terlalu heterogen, karena dengan ini kita ga akan dapet insight yang bener. Dan menurut saya, FGD kalau diaplikasikan dengan statistik, bisa diekuivalenkan dengan proses design experiment.
Jadi,…. dalam marketing research pemilihan metode research ga bisa donk kalau mengacu ke tingkat awarenessnya….
BTW, tampilan blog-nya makin okey…. moga isinya makin oke juga yach….
Halo Mbak Hermin,
Terima kasih atas sanjungannya terhadap tampilan blognya
Saya setuju bahwa dalam satu kelompok FGD harus homogen terutama dalam hal interest, juga profil demografis perlu diperhatikan, jangan terlalu lebar range usianya. Dan untuk masalah-masalah yang sensitif (terkait dengan gender) jangan sampai disatukan pria dan wanita, bisa perang bubat…
FGD kan metode kualitatif sifatnya eksploratif dan cenderung deskriptif. Biasanya memang dijadikan “pembuka jalan” bagi riset kuantitatif, dengan metode eksperimen misalnya.
Regards
Hari Zebua
Wah..berat nih topicnya. Kalo menurut saya kembali lagi ke objective dari FGD itu sendiri apa dulu. Dari situ kan bisa ditentukan respondennya mau seperti apa dan dari kalangan mana. Misalnya, kalau mau mengetaui pendapat konsumen mengenai mie instan kan ga perlu harus mengundang pakar pembuatan mie. Justru yang responden yang diperlukan itu harusnya dari kalangan umum. Hanya saja memang si responden itu sendiri harus dipilih secara selektif untuk memperoleh diskusi yang bermutu..
Sekali lagi..goodluck buat Hari. Semoga bisa jadi peneliti yang handal. Kali2 aja ntar bisa jadi orang terkenal..inget2 aku temenmu ya..:)
Mas Hari, pernah membaca buku How Customers Think karangan Gerald Zaltman?. Kalau belum saya rekomendasikan untuk membacanya. Banyak komentar yang menarik mengenai FGD di sana. Ringkasannya saya tulis di blog saya. Salam.
pak…tanya….
tau metode kualitatif buat gender gak??????please…
Halo Rere,
Kira-kira kebutuhan yang lebih spesifiknya apa? Atau kira-kira topiknya apa? Karena pendekatan kualitatif itu berlaku universal untuk semua bidang ilmu termasuk studi gender, baik FGD, IDI, Etnografi, Observasi, dll.
Ingat gender, jadi ingat zaman kuliah dulu, saya pernah ngambil mata kuliah gender dan pembangunan. Dan saya adalah satu-satunya kaum adam di kelas tersebut
Monggo untuk diskusi selanjutnya
FGD yang terpenting adalah bagaimana menghidupkan suasana diskusi. trus bagaimana tetap menjaga fokus yang dibicarakan, serta menghasilkan suatu konsep bersama yang kemudian dapat dikawal ke lingkup FGD yang lebih tinggi lagi..
trus aku mau minta bantuan nih, kebetulan aku mau buat FGD tentang ketahanan pangan di kalimantan. ada masukan gak pak…
Salam kenal Pak Rustan
Pemahaman Bapak soal FGD sudah sangat baik. Jika ingin diringkas, FGD yang benar adalah : FGD yang DINAMIS dan FOKUS.
Masukan untuk FGD bertema “ketahanan pangan di kalimantan”. Hmm, lebih spesifiknya masukan dari sisi mana ya Pak?
Salam FGD!
aku lagi buat penelitian untuk kelulusan S1 ku di Univ.Mercu buana JKT.
mohon bantuannya.
sebenarnya aku ga mau bikin skripsi.tapi lantaran kampus juga belum mengijinkan mahasiswanya yg lulus memakai jalur tugas akhir (di fakultas Ilmu komunikasi/broadcasting) jadi saya terpaksa harus membuat skripsi.
Judul skripsi ku
apreasiasi khalayak (mahasiswa) terhadap film dokumenter.
sifat penelitianku deskriptif dengan pendekatan kualitatif.
dan aku memakai metode studi kasus
pegumpulan data aku pakai dengan focus group discussion.
aku bingung harus menyusun kedalam bentuk tulisan.
perlu diketahui.
aku sudah memutarkan film dokumenter (film karyaku) dan di diskusikan
lalu aku rekam dengan Handycam.
pak.gimana yah lagiiiiiiiii…..
elang/yanu
cakar_elang_communication@yahoo.com
Halo Elang yang sepertinya sedang bingung, gampang tinggal pegangan, becanda
Dugaan saya sih kamu baru pertama kali melakukan FGD, jadi bingung hasilnya harus diapakan? Masalah di analisis atau penulisan laporannya? Kira-kira tujuan skripsimu apa?
Sori belum bisa panjang lebar kasih masukkan, soalnya saya belum kebayang jelas masalahmu di mana?
Salam
HRZ
FGD APAAN YAH……….
GW BC BERULANK2 GA NGERTI………
TOLONGGGGGGGG!!!!!! HELP ME PLISSSSSSSSSS.
mau tanya, tahapa analisis untuk metode FGD tu gmn ya?
saya bener2 ga tau dan bener2 mau tau bangeeettt. txh y…
Halo Intan yang lagi bingung,
Menganalisis hasil FGD sebenarnya mengikuti prinsip-prinsip analisis kualitatif pada umumnya. Bisa dilakukan secara sederhana bisa secara rumit. Namun karena sebagian besar FGD digunakan untuk kepentingan praktis, misalnya tes produk, tes iklan, pembuatan konsep produk, dll., saya memilih cara yang sederhana.
Saya biasanya menggunakan metode matriks. Tapi sebaiknya sebelum dibuat dalam bentuk matriks hasi FGD tersebut dibuat transkripnya dulu. Matriks tersebut terdiri dari baris dan kolom. Baris berisikan tema-tema dari FGD, paling mudah sih menggunakan panduan pertanyaan. Namun tema-tema ini tidak harus terikat dengan panduan pertanyaan namun bisa berkembang sesuai dengan dinamika kelompok menghasilkan tema-tema baru.
Jadi baris itu berisi misalnya : baris 1 awal mengenal produk “X”, baris 2 alasan memilih produk “X”, baris 3 keunggulan produk “X”, baris 4 kekurangan produk “X”, baris 4 usulan perbaikan produk “X”, dst.
Kolom berisi pendapat kelompok-kelompok FGD. Jumlah kolom berbanding lurus dengan jumlah kelompok FGD. Misalnya untuk tema penilaian terhadap produk “X” dilakukan pada 3 kelompok FGD.
Dengan metode matriks ini kamu akan lebih mudah membandingkan pendapat-pendapat masing-masing kelompok untuk setiap tema (baris). Jadi pendapat kelompok 1,2, dan 3 terhadap keunggulan produk “X” misalnya.
Setelah mendeskripsikan baru cermati deskripsi tersebut. Perhatikan apakah ada perbedaan atau persamaan, telusuri mengapa bisa berbeda. Perhatikan apakah pendapat-pendapat tersebut merupakan opini atau pengalaman pribadi, dst.
Usahakan agar tujuan penelitian menuntun arah analisis, jadi apa yang ingin diketahui dapat dicapai.
Ingat bahwa tidak semua data penting, perhatikan mana yang sekedar nice to know atau important to know. Kriterianya kembali lagi pada tujuan yang hendak dicapai.
Semoga membantu
Salam
Seru sekali diskusinya tentang FGD.
Yang ingin saya tanyakan apa perbedaannya metode FGD dan IDI
maaf sebelumnya. Karena baru kali ini saya mencoba penelitian kualitatif dan dengan metode FGD. Dan karena saya juga hoby untuk meneliti di bidang kesehatan..Jadi pengin belajar tentang FGD.
Saya juga dah baca bukunya Pak Irwanto tentang “Focused Group Disscution” Tapi karena belum pernah melakukan penelitian ini jadi masih belum begitu jelas. Mungkin karena baru pertama kalinya saya mencoba untuk penelitian dengan pendekatan kualitatif
Saya ingin mengadakan penelitian tentang Kebiasaan merokok pada remaja laki-laki di dikecamatan desa saya. Karena dilihat dari segi kesehatan merokok kan banyak kerugiannya atau sisi negatifnya.
Dan biasanya penelitian yang sering dilakukan di dunia kesehatan adalah penelitian Kuantitatif, lha disini saya ingin mencoba dengan metode kualitatif dan pengumpulan datanya dengan FGD.
Mohon saran, arahan dari bapak untuk penelitian saya.
Kira-kira untuk lebih baiknya pengambilan sampel dan analisis data saya, perlu langkah-langkah atau versi yang bagaimana. Suwon ngeh pak.
(Novita-Unnes)
Halo Mbak Novi,
Sangat wajar kalau mbak Novi belum “pede” melakukan riset kualitatif karena baru akan pertama kali melakukannya. Melakukan penelitian kualitatif memang dibutuhkan jam terbang yang lebih banyak daripada kuantitatif. Bukan maksud merendahkan penelitian kuantiatif, tapi instrumen penelitian kuantitatif banyak yang sudah establish dan teruji realibitasnya jadi bisa diulangterapkan diberagam masalah penelitian. Sedangkan penelitian kualitatif, instrumennya ya peneliti itu sendiri, ditambah metode analisis penelitian kualitatif sangat banyak dan tidak ada standar baku. Sangat cair, fleksibel, situasional. Tapi justru disinilah kekuatan kualiatatif, dia bisa menggambarkan dan memahami masalah penelitian secara detil dan mendalam
IDI dan FGD hanya beda di teknik pengambilan datanya saja. Namun akan lebih baik jika metode ini digabung (triangulasi). Apalagi untuk topik yang Mbak Novi angkat, mungkin sedikit sensitif karena merokok di kalangan remaja masih merupakan tabu secara normatif di masyarakat kita. Bisa jadi mereka akan tertutup dan cenderung juga normatif dalam menjawab pertanyaan saat FGD. Tapi tidak salah dicoba, karena dulu polling center pernah mengadakan FGD pengguna narkoba, dan katanya sih hasilnya cukup memuaskan. Yang penting moderator dan co moderator jangan pernah menjudge secara sengaja atau tidak bahwa merokok adalah perbuatan tidak baik, buruk bagi diri sendiri dan orang lain.
Mbak Novi bisa membagi kelompoknya menjadi perokok pemula dan perokok “senior”. Kriterianya misalnya, untuk pemula, merokok kurang dari 1 tahun, yang senior lebih dari 1 tahun.
Langkah-langkah praktis melakukan FGD dapat mengikuti sarannya Pak Irwanto.
Semoga membantu, selamat meneliti!
Salam
Halo Pak Irwanto
Mudah2an kabar baik, saya saat ini sedang melakukan penelitian dan sangat membutuhkan referensi ini (FGD). Mohon bantuan bapak untuk menginformasikan dimana saya bisa dapatkan buku tersebut.
Terima kasih
Hormat saya
Alam
malam ini, saya lagi berkelana di perpustakaan terbesar dunia alias internet, mencari-cari tentang FGD, karena besok saya harus tes COOPS INCO dan FGD adalah salah satu tesnya. Kemudian, saya terdampar di halaman rumah Anda. Dan saya pikir saya harus berucap terimakasih banyak, artikel dan tulisan anda banyak membantu. Keep writing!
sebenarnya, dalam FGD-FGD pada rekrutmen beberapa perusahaan, kriteria penilaiannya apa sih? apakah keaktifan, kemampuan memoderator, kemampuan analisa, atau kemampuan memberikan alternatif, atau apa? saya bingung… soalnya sudah beberapa kali melamar kerja, mentoknya di FGD lagi… he..he..he… mohon pencerahannya….
Pak hari…saya sbnrnya g tll paham apa itu FGD…tp pura2 bisa aja dech…sy sdg m’konsep pertanyaan2 FGD utk evaluasi training…spy dinamis & enjoy, kira apa aja Pak Pertanyaan utk peserta training. tks Pak Hari…Bravo FGD
Pak Hari,
Saya sedang mengerjakan penelitian Tesis S2 saya. Secara umum topik saya tentang penelitian new business opportunity yang dibentuk dari 2 industri berbeda. Metoda yang di encourage oleh dosen pembimbing saya adalah FGD. Krn FGD cocok utk tema2 business opportunity.
Pertanyaan saya:
1. Dalam mengeksplorasi sebuah bisnis baru yang melibatkan stakes dari 2 industri, perwakilan konsumen, regulator dan lain sebagainya. Bagaimana menurut pengalaman Pak Hari untuk mengajak mereka? Dilihat dari sudut kepentingan sbnrnya ada kepentingan berbeda. Saya mempunyai kepentingan utk penelitian tesis saya dan stakeholder punya kepentingan untuk mendapatkan insight dari penelitian saya mis: bagaimana “business model” yang harus diimplementasikan.
2. Tahapan FGD (methodology) yang paling favorit utk kasus saya gimana sih Pak?
3. Adakah lembaga riset yang dapat membantu saya melakukan ini. Kira2 biayanya berapa ya Pak?
Atas pertolongan menjawab pertanyaan mendasar saya ini, say ucapkan terima kasih.
Salam, DIDI
Dimanakah say abisa mendapatkan buku FGD karangan Pak Irwanto ini ya? Saya mahasiswa S2 yang sedang mengerjakan thesis, dan salah satu teknik nya menggunakan FGD. saya berdomisili di Lampung. saya sudah mencari di semua toko buku di Lampung, tapi tidak saya temukan, even di gramedia. dimana saya bisa pesan secara on line??? please…………..
Halo Mbak Puji, coba pesan ke http://www.palasarionline.com, terakhir saya cek masih ada stoknya, harga Rp 14.400′-
saya melakukan penelitian tentang pangembangan website dengan FGD tapi dianjurkan ditindak lanjuti dengan metode lain yang kuantitatif…
dari komen diatas ada metode matriks,IDI(kepanjangannya?),etnografi (saya belum mengerti metode tersebut satupun)…
mana yang lebih baik digunakan dan tolong beritahu referensi yang bisa saya gunakan supaya bisa sy pelajari
TQ
Halo Guri, tidak melanjutkan riset kualitatif ke riset kuantitatif adalah pilihan. Jika sudah cukup puas sekedar mengeksplorasi ide dan tidak bermaksud mengukur/menguji, berhentilah di kualitatif
Metode matriks adalah tehnik standar dalam menganalisis hasil FGD, kita mereduksi data untuk mendapat big picture dan menyusun konsep, proposisi, bahkan teori dari data. Tehnik ini biasa digunakan oleh lembaga-lembaga riset komersil. Memang tidak ada referensi resminya (buku, jurnal, dll.)
IDI adalah indepth interview, salah satu cara mengumpulkan data, sejajar dengan FGD hanya saja tidak melibatkan interaksi. One on one, personal.
Etnografi adalah metode kualitatif kontemporer yang mencoba menutup kelemahan dari FGD yang cenderung normatif dan semu. Silahkan berkunjung ke situs pakarnya di Indonesia Ibu Amalia Maulana PhD, lihat link di blog ini.
Semua metode di atas bisa digunakan, tapi dalam konteks triangulasi artinya mengkombinasikan beberapa metode kualitatif untuk memperkaya hasil penelitian.
Semoga membantu
Dear Zebua,
Belum lama ini saya berpindah tugas ke bagian riset di kantor saya. Bagian itu sendiri belum lama diadakan.
Proyek dalam waktu dekat ini adalah untuk melakukan survey kuesioner, yang akan disambung dengan FGD/FGI.
Sangat menarik melihat tuliasn berikut semua komentar di sini, sehingga saya berharap dapat berkorespondensi lebih lanjut dengan Anda.
Banyak hal tentang FGD maupun lainnya tentang penelitain yang ingin saya tanyakan.
Bila Anda berkenan, email saya di azharac@trans7.co.id.
Terima kasih
Salam kenal Azharac. Oke saya akan korespondensi dengan Anda via email
Salam
Salam kenal.
Boleh kasih contoh kasus yang biasa diujikan dalam FGD. Terus kasih tolong kasih tau petunjuk pemecahan kasusnya.
Saya pernah baca, katanya dalam FGD kompetensi dan integritas penting juga ya.
Halo Dea,
Mungkin perlu diluruskan, karena ada beberapa pertanyaan yang diajukan ke blog ini seputar FGD bukan merupakan bentuk FGD yang selama ini saya kerjakan. Beda tujuannya. FGD yang saya kerjakan selama ini dan yang saya maksudkan dalam tulisan-tulisan saya adalah FGD dalam konteks riset sosial dan pemasaran, bukan dalam konteks rekrutmen SDM. Sepengetahuan saya, metode FGD memang sering digunakan sebagai salah satu tahap dalam rekrutmen karyawan baru. Kemiripannya hanyalah dalam format, yaitu grup (kumpulan orang), tapi cenderung lebih kepada grup interview, tidak dinamis dan hidup seperti FGD dalam konteks riset sosial/pemasaran.
Jadi mohon maaf kalau yang dimaksud FGD dalam konteks rekrutmen sumber daya manusia/karyawan baru, saya tidak bisa membantu lebih jauh karena saya belum pernah melakukannya.
Salam
Salam kenal..
Saya Popo, mahasiswa Magister Profesi Psikologi Industri dan Organisasi UI. Saya sedang mengerjakan Tesis tentang consumer behavior. Kurang lebih judulnya segmentasi psikografis pada pendengar radio dewasa muda (25-35 tahun). Saya mau tanya, untuk melakukan FGD, bagaimana baiknya pembagian kelompoknya? Apakah cukup dengan dua kelompok, yaitu 1) pria 24-35 tahun dan 2) wanita 24-35 tahun. Mohon masukannya melalui email saya puspowiroko@gmail.com.
Terima kasih banyak atas bantuannya..