…Pengumpulan pendapat melalui telepon ini diselenggarakan Litbang “Kompas” 24-25 Oktober 2007. Sebanyak 830 responden berusia minimal 17 tahun dipilih secara acak menggunakan metode pencuplikan sistematis dari buku telepon terbaru. Responden berdomisili di Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, Padang, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Manado, dan Jayapura. Jumlah responden di setiap kota ditentukan secara proposional. Menggunakan metode ini, pada tingkat kepercayaan 95 persen, nirpencuplikan penelitian +/- 3,4 persen. Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi. Hasil jajak pendapat ini tidak dimaksudkan untuk mewakili pendapat seluruh masyarakat di negeri ini…
Kutipan di atas selalu dicantumkan pada setiap laporan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang KOMPAS. Selain KOMPAS, media massa nasional lain juga selalu mencantumkan catatan metode pada setiap hasil jajak pendapat yang mereka publikasikan, misalnya majalah TEMPO, koran TEMPO, MEDIA INDONESIA, METRO tv, JAWA POS, dll. Namun di antara catatan-catatan metode tersebut, sejauh pengamatan saya hanya Litbang KOMPAS yang mencantumkan : …. “Meskipun demikian, kesalahan di luar pencuplikan dimungkinkan terjadi” … Apa yang dimaksud dengan kesalahan di luar “pencuplikan” ini? Apa bedanya dengan konsep “nirpencuplikan”?
Alkisah Litbang KOMPAS-lah yang pertama kali mempopulerkan istilah “nirpencuplikan”, namun terdengar tak nyaman di telinga saya. Karena jika dianalisis kombinasi kata yang digunakan, “nir“ dengan “pencuplikan”, rasanya kurang pas untuk menggusur istilah sampling error. Sebaliknya istilah “pencuplikan” yang menyingkirkan istilah sampling lebih terdengar enak di telinga saya. Istilah-istilah tersebut sebenarnya belum baku (belum dikamuskan di KBBI), dan belum tentu para empu riset di negara ini menyetujui penggunaannya di ranah metode penelitian. Menurut KBBI “nir” berarti bentuk terikat tidak atau bukan, jadi misalnya frasa nirlaba artinya bersifat tidak mengutamakan pemerolehan keuntungan, nirkabel artinya tanpa menggunakan kabel…dll.
Lha kalo “nirpencuplikan”, apa artinya tanpa melakukan pencuplikan alias tanpa mengambil sampel? Kok ya rasane jauh dari yang dimaksud dalam terminologi aslinya, sampling error. Kata error berarti kesalahan alias penyimpangan alias ketidaktepatan! Kemana bersembunyinya istilah tersebut dalam frasa “nirpencuplikan”? Aduh koran secerdas KOMPAS kok iso ngawur yo?
Tapi saya sedang tak ingin membahas “kengawuran” Litbang KOMPAS, saya sedang ingin membahas soal non sampling error, yang telah digusur oleh Litbang KOMPAS dengan istilah kesalahan di luar pencuplikan. Hanya saja agar saya lebih “sejahtera” membahasnya, saya akan menggunakan istilah-istilah tersebut dalam “habitat” aslinya.
Setiap kali kita melakukan kegiatan riset, ada dua “monster” yang selalu menghantui kegiatan riset, yaitu sampling error dan non sampling error. Monster yang berjuluk sampling error sangat mudah dijinakkan bahkan bisa “dituntashabiskan” sampai tas…tas…tas…. Caranya, tinggal menambah jumlah sampel maka dia akan menciut dengan sendirinya. Jika seluruh populasi diteliti maka dia akan hilang lenyap bak ditelan lumpur Lapindo. Hantu sampling error wujudnya jelas, dia menampil ujud dalam sosok angka persentase (+/- 3.4%, +/- 5%, +/- 0.03%, dst.). Terciptanya monster sampling error merupakan konsekuensi logis dari penelitian yang meneliti hanya sebagian saja anggota populasi penelitian, alias hanya mensampling tidak mensensus.
Lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut, misalnya kita punya populasi berat badan 5 (n) orang balita, A=5 kg, B=7 kg, C= 10 kg, D= 11 kg, dan E=15 kg. Kalau kita hitung rata-ratanya (rata-rata= (A+B+C+D+E)/n), maka kita mendapatkan angka 9.6 kg. Jika kita mensampling dengan n=3, terambil secara random misalnya balita A, C, dan D. Maka rata-rata berat mereka adalah : 8.6 kg. Kemudian kita sampling lagi masih dengan n=3, dapat misalnya B, C, E. Maka rata-rata berat mereka adalah : 10.6 kg. Demikian seterusnya jika kita melakukan sampling berulang-ulang terhadap populasi tersebut secara acak, hasilnya tidak akan pernah persis sama dengan 9.6 kg! Bisa lebih, bisa kurang atau nyaris mendekati, misalnya kombinasi B, C, dan D, hasilnya 9.3 kg! Ketidaktepatan hasil sampling inilah yang disebut sebagai sampling error. Error tidak diartikan sebagai kesalahan, tetapi dimaknai sebagai ketidaktepatan dalam batas-batas yang telah disepakati sebelumnya.
Statistika tidak mengenal hasil “pasti”, adanya adalah hasil “kira-kira”. Sangat wajar karena ilmu Statistika dibangun di atas ilmu “ketidakpastian” yaitu prinsip-prinsip probabilitas alias kemungkinan. Sehingga sampling error akan dibaca juga sebagai hasil “kira-kira”. Yang dimaksud dengan batas-batas yang telah disepakati adalah tingkat kepercayaan (confidence level/CL) “subjektif” si peneliti terhadap hasil risetnya, biasanya telah ditentukan di awal penelitian. Umumnya CL yang digunakan adalah 90%, 95% dan 99%. CL dan jumlah sampel merupakan bahan baku untuk menghasilkan sampling error. Misalnya hasil jajak pendapat Litbang KOMPAS di awal tulisan ini menyebutkan bahwa mereka menggunakan tingkat kepercayaan 95 persen dan jumlah sampel sebesar 830 responden, sehingga dihasilkan sampling error sebesar +/- 3.4 %. Jadi jika hasil jajak pendapat tersebut menyebutkan bahwa terdapat 80% responden yang tidak mendukung kenaikan BBM, 15% mendukung dan 5% tidak bisa menentukan sikap. Maka hasilnya harus dibaca, bahwa Litbang KOMPAS yakin sebesar 95%, jika seluruh populasi pemilik telepon di kota-kota tersebut diteliti (sensus) maka mereka yang tidak mendukung kenaikan bbm berkisar 76.6% s.d. 83.4% (80%-3.4% s.d. 80%+3.4%) demikian seterusnya perhitungan untuk yang mendukung dan tidak bisa menentukan sikap.
Sesederhana itu kah persoalannya? Hanya dengan mengetahui sejauh mana hasil riset kita “menyimpang” sudah cukup untuk meyakinkan diri akan kebenaran hasil riset? He, he.. tunggu dulu! Tak segampang itu masalahnya. Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya, monster sampling error mudah dijinakkan. Tapi monster satunya lagi yang berjuluk non sampling error sangat sulit dikendalikan, dia tidak berujud, dan tidak dapat dihilangkan sampai tas…tas…tas…. Mo sampling kek, mo sensus kek, monster ngeyel ini terus berusaha “mengganggu” selama kegiatan riset berlangsung. Monster non sampling error mengancam di setiap tahapan penelitian, mulai dari perumusan masalah, penentuan disain riset, pengumpulan data, pengolahan data, hingga pada tahap analisis dan penyajian hasil.
Karena tak berujud, non sampling error sulit diantisipasi kehadirannya. Non sampling error bukan akibat penarikan sampel namun dia mewujud karena error yang terjadi selama proses penelitian bersumber dari ulah “oknum-oknum” yang terlibat dalam penelitian ini sendiri. Mereka adalah : responden/informan, tenaga lapangan (surveyor, interviewer, observer) dan peneliti sendiri!
Mari kita telisik satu per satu sumber-sumber penyebab non sampling error tersebut! (sumber : Marketing Research: An Applied Orientation, Naresh K. Malhotra)
PENELITI
Sebagai sang empunya proyek riset, peneliti tidak serta merta memiliki kuasa penuh menentukan hitam putih hasil risetnya. Banyak hal yang dapat lolos dari perhatian si peneliti, sehingga memicu bergentayangannya hantu non sampling error.
Pertama, surrogate information error, akibat dari adanya gap antara informasi yang dibutuhkan dengan informasi yang dikumpulkan si peneliti. Misalnya informasi yang dibutuhkan adalah preferensi bermedia cetak namun yang dikumpulkan oleh si peneliti adalah brand awareness media cetak.
Kedua, measurement error, akibat tidak validnya alat ukur yang digunakan oleh peneliti dalam mengukur subjek/objek penelitian, sehingga terjadi gap antar informasi yang telah dikumpulkan dengan informasi yang dihasilkan. Misalnya : kalau yang diukur konsep SES, maka jangan hanya mengukur pengeluaran saja, tapi ukur juga tingkat pendidikan dan jenis pekerjaaannya.
Ketiga, population defenition error, akibat dari ketidaktepatan pendefenisian populasi penelitian atau populasi target. Suatu defenisi populasi target yang benar harus mencakup 3 unsur yaitu : isi, cakupan, dan waktu. Misalnya : Pembaca INTISARI (isi) yang berlangganan INTISARI melalui Unit Layanan Jual Gramedia Majalah (cakupan) dari Januari 2006 s.d. Desember 2006.
Keempat, sampling frame error, masih terkait dengan error ketiga. Sampling frame merupakan daftar seluruh anggota populasi. Error jenis ini akan terjadi ketika ada anggota populasi yang tidak terdaftar, atau daftar yang telah kadaluwarsa. Hal ini sering terjadi di Indonesia, karena data kependudukannya masih amburadul dan instansi pemerintahan terkait yang tidak tertib administrasi.
Kelima, data analysis error, terkait dengan proses analisis data, hal ini sangat tergantung pada kompetensi si peneliti. Misalnya : peneliti menerapkan analisis parametrik terhadap data yang tidak berdistribusi normal, yang seharusnya dianalisis dengan tehnik non parametrik
SURVEYOR/INTERVIEWER/OBSERVER
Tenaga kolektor data (TKD) juga berperan besar dalam menambah “kekuatan” non sampling error yang bergentayangan. Mereka adalah “penyelia” antara pemilik riset dan sumber data. Error-error yang ditimbulkan oleh mereka adalah :
Pertama, questioning error, TKD salah dalam bertanya, over interpretasi terhadap panduan pertanyaan, atau malah kebalikannya tidak menggali lebih dalam (probing) jawaban responden/informan. Misalnya, responden mengatakan : “tips dari tabloid motor itu malah bikin mesin brebet”… kata “brebet” mungkin istilah lokal (bahasa daerah) atau bahasa “slank” di komunitas responden. Jika tidak diprobing maka peneliti akan kesulitan pada saat menganalisis (mengakategorikan jawaban responden).
Kedua, recording error, TKD melakukan kesalahan dalam pencatatan respon yang diberikan oleh responden/informan. Hal ini bisa disebabkan TKD tidak berkonsentrasi pada proses interview, atau salah dalam menginterpretasi jawaban-jawaban responden/informan.
Ketiga, cheating error, hal ini berkaitan dengan moralitas TKD. TKD berbohong dengan “mengisi” sebagian atau seluruh kuesinoer (survei, polling). Untuk indepth interview peluang cheating error ini lebih kecil terutama jika proses wawancara direkam.
RESPONDEN/INFORMAN
Terakhir adalah error yang bersumber dari subjek/objek penelitian. Responden/informan berpartisipasi menyumbangkan tiga jenis error yaitu : inability error, unwillingness error dan no response error.
Error jenis pertama terjadi jika responden/informan tidak memberikan informasi yang benar atau tepat. Hal ini bisa disebabkan oleh bias memory, responden/informan sudah tidak ingat peristiwa atau pengalaman yang ditanyakan. Saya sering menjumpai fenomena ini ketika melakukan retail audit pengecer media cetak, berskala nasional. Responden pada penelitian ini sebagian besar tidak memiliki catatan penjualan, sehingga ketika menanyakan penjualan di kios mereka, ya, hanya mengandalkan ingatan. Ketika dikunjungi kembali untuk validasi lapangan, sebagian besar jawaban mereka tidak konsisten dengan jawaban sebelumnya… Atau bisa juga karena kendala psikis dan fisik. Responden/informan sudah kelelahan dibombardir dengan berlembar-lembar kusioner atau diajak ngobrol berjam-jam. Menurut sejumlah pakar riset pemasaran, idealnya waktu untuk wawancara dengan metode survei maksimal 20 menit, dan untuk wawancara mendalam sekitar 2 jam. Lebih dari waktu itu jawaban-jawaban responden/informan mulai ngawur dan ngaco.
Kedua, terjadi jika responden/informan “gengsi” atau “takut” memberikan jawaban yang sebenarnya. Misalnya ketika ditanyakan pengeluaran keluarga per bulan, umumnya cenderung memilih kategori sedang ke kecil. Atau mengaku-ngaku menggunakan sejumlah produk branded agar terkesan berkelas. Atau merasa tidak enak dengan si interviewer, sehingga jawaban yang diberikan sekedar buat nyenengin si interviewer. Ketiga, terjadi karena responden/informan menolak mentah-mentah mengikuti kegiatan riset, bisa karena masalah privacy, topik yang kurang menarik, belum lama berselang pernah menjadi responden/informan, dll. Error ini tidak berpengaruh langsung pada kualitas hasil riset karena responden/informan belum terlibat jauh, namun akan terasa berpengaruh jika peneliti tidak memiliki cadangan sampel yang banyak, sehingga persyaratan minimum jumlah sampel untuk analisis lanjutan tidak terpenuhi.
Melalui paparan panjang lebar di atas, pesan yang hendak saya usung kepada pembaca adalah, ketika melakukan penelitian, peneliti harus mengantisipasi dan memberikan perhatian lebih pada aspek non sampling error! Non sampling error bersifat “pengecut”, karena dia tidak pernah menampakkan diri, non sampling error lebih bepotensi menghancurkan, “membunuh” hasil riset kita secara diam-diam tanpa kita menyadarinya, dibandingkan dengan sampling error yang bersifat kesatria karena berani menunjukkan ujudnya.