Selama ini pengguna data lembaga riset AC Nielsen telah “dikerjai” dalam hal pengukuran status sosial dan ekonomi (SSE) masyarakat Indonesia. AC Nielsen tidak melakukan pengukuran konsep SSE dengan benar-benar benar! Pengukuran yang dilakukan tidak memenuhi syarat validitas isi!. Saya kurang yakin bahwa tidak ada akademisi atau praktisi riset yang menyadari dan pernah mengkritisi kesalahan fatal ini, bisa jadi ada tapi tidak terpublish di media massa, seperti yang dilakukan oleh pakar komunikasi politik UI, Effendy Ghazali yang menabuh genderang perang dengan AC Nielsen dalam soal pengukuran rating TV (Kompas, 29 September 2006).
Melalui tulisan ini saya ingin mengkritisi dan membongkar “penyesatan” yang telah dilakukan AC Nielsen. Bagaimana AC Nielsen melakukan “penyesatan” dalam mengukur konsep SSE? Mari kita cermati ilustrasi berikut :
…Anda pasti setuju bahwa di mata masyarakat Paijo yang berprofesi sebagai tukang bakso di terminal Pulo Gadung, tidak tamat SD lebih rendah “derajatnya” dibandingkan Paul seorang store manager fast food restaurant masakan Jepang di Mal Ciputra lulusan akedemi pariwisata. Atau A Liang tukang martabak bangka di bilangan Pasar Minggu hanya berijasah SMA tidak lebih tinggi “derajatnya” dibandingkan Acong yang berprofesi sebagai research executive di lembaga riset AC&DC, pemegang gelar Master of Science. Padahal dari segi penghasilan keempat orang ini bisa jauh berbeda. Saya pernah menanyakan penghasilan seorang teman yang berprofesi sebagai store manager sebuah restoran pizza, dia mengaku take home pay-nya berkisar 2.5 – 3 juta rupiah perbulan. Sedangkan seorang tukang bakso, jika racikan baksonya mak nyuss bisa menjual puluhan bahkan ratusan mangkok bakso dalam sehari, artinya omsetnya bisa mencapai ratusan ribu per hari bahkan jutaan. Nah, jika dikumulatifkan dalam sebulan jelas penghasilan si store manager kalah jauh. Demikian juga dengan si tukang martabak, saya pernah membaca kisah sukses seorang tukang martabak beromset puluhan juta rupiah perbulan, jelas penghasilan tukang martabak tersebut jauh lebih besar dibandingkan si research executive yang paling bergaji 5 – 7 juta rupiah perbulan…
Menjadi masalah ketika mereka terpilih sebagai responden survei media index/readership survey AC Nielsen, ke empat orang ini bisa berada dalam “SSE” yang sama, yaitu kategori A1 ( pengeluaran di atas > Rp 3 juta per bulan). Padahal secara sosial mereka tidak setara! Saya selalu miris jika menakar diri berdasarkan pengukuran “SSE” versi AC Nielsen, karena saya memiliki SSE yang sama dengan GM bahkan direktur perusahaan, padahal sang GM berkendara sedan merek BMW seri 7, tinggal di komplek perumahan mewah sedangkan saya sebagai staf baru mampu berkendara motor bebek dan tinggal di rumah studio (istilah keren untuk rumah petak, he…he…he…).
Jelas alat ukur yang dibuat oleh AC Nielsen gagal total dalam mengkategorikan masyarakat Indonesia. Ini merupakan hal yang serius karena data AC Nielsen menjadi acuan sebagian besar pengambil keputusan. Acap kali kita mendengar orang dengan semangat mengatakan : “kami akan membuat produk baru dengan target SSE A+”. Ini berarti saya dan direktur perusahaan tempat saya bekerja termasuk target mereka! Bukankah itu kesalahan fatal? Karena jika pengukuran SSE dilakukan dengan secara valid, saya tidak akan se “kasta” dengan beliau. Hal ini terlepas dari diikut sertakannya variabel lain, psikografis dan behaviour misalnya. Tapi minimal telah terjadi kesalahan dalam mendeteksi target berdasarkan SSE nya. Dan hal ini bisa berdampak fatal terhadap keputusan yang akan diambil.
Lalu adakah solusi untuk permasalahan ini? Jelas ada! Dan tidak sulit. Pertama, AC Nielsen harus menghentikan penggunaan istilah SSE, dan mesosialisasikan istilah HHE (house hold expenditure) sehingga tidak terjadi kesalahan penafsiran terhadap ukuran SSE. Kedua, AC Nielsen membuat instrumen pengukuran konsep SSE yang valid, cukup dengan membuat indeks dari variabel pekerjaan, pendidikan, dan pengeluaran. Indeks inilah yang kemudian menjadi alat untuk mengkategorikan SSE seseorang. Namun sebaiknya untuk pengukuran dimensi status sosial perlu melibatkan ahli sosiologi dan atau antropologi yang memahami karakteristik masyarakat Indonesia, misalnya menentukan jenis pekerjaan dan “derajat” nya. Masing-masing budaya/negara memiliki cara pandang tersendiri terhadap jenis pekerjaan/profesi, di Amerika mungkin profesi pengacara menduduki kasta tertinggi, tapi di Indonesia mungkin profesi dokter lah yang menduduki kasta tertinggi.


untuk pengelompokkan/ segmentasi memang sebaiknya tidak terlalu mengacu pada SSE. MIsal, aplikasinya adalah pada market research, maka pengelompokkan segmen/ responden sebaiknya mengacu pada life style serta penggunaan, motivasi dan pola pembelian produk yang disurvey. Contoh : apakah cukup layak mengelompokkan responden rumah sakit hanya berdasar SSE? Padahal semua orang butuh hidup sehat, dan ternyata pemeriksaan pada penyakit2 tertentu hanya dapat dilakukan di rumah sakit tertentu (berkaitan dengan investasi peralatan dan spesialisasi dokter ahlinya).
Sangat setuju Mbak Hermin, segementasi hanya berdasarkan SES memang sangat cetek. Segementasi kreatif seperti yang dikemukakan oleh Marketing guru, Pak Hermawan Kartajaya sebaiknya menggunakan variabel-varibel psikografi atau konsep baru sekarang ini yang dipopulerkan oleh Ibu Yanti B. Sugarda (polling center) teknografi.
Pesan yang hendak saya sampaikan dalam artikel ini adalah kesalahan “fatal” Nielsen dalam mendefenisikan konsep SES. Masalah ini kalau dibawa dalam “sidang metodologi” (seandainya ada) NMR Indonesia bisa dihukum seumur hidup karena telah melakukan penyesatan publik yang awam riset.
salam kenal pak Zebua,
saya staff riset di salah satu perush food, sering melakukan consumer test baik dengan panelis internal maupun external. Untuk riset external, ada batasan SES sesuai yg digunalan AC Nielsen , tetapi dari th 2004 smp sekarang saya belum mengubah batasan itu. Apakah masih berlaku smp sekarang, serta mohon dijelaskan lagi untuk pengeluaran apa saja yang termasuk dan tidak termasuk? siapa tahu selama ini saya ada yg salah.
Jikalau kita mengenal panelis/respondennya dan kita tahu jawabannya ttg SES tdk sesuai kenyataan, boleh nggak kita mengubah data tsb?
Terimakasih banyak sebelumnya.
Salam kenal mbak Esti, terima kasih atas kunjungannya.
Nielsen memang sudah merubah batasan “SES” nya, saya lebih senang menggunakan istilah HHE karena memang hanya itu yang diukur oleh instrumen tersebut. Perubahan itu dilakukan pada tahun ini, dengan perincian :
Dalam satuan rupiah
E (kurang dari sama dengan 600.000) D (600.001 – 900.000) C2 (900.001 – 1.250.000) C1 (1.250.001 – 1.750.000) B (1.750.001 – 2.500.000) A2 (2.500.001 – 3.500.000) A1 (di atas 3.500.000)
Yang berubah hanya besaran, cakupan pengeluarannya tidak berubah. Yaitu : pengeluaran rutin keluarga untuk makanan, produk pembersih, biaya sekolah anak, listrik, air, rokok, biaya pembantu, bbm, sewa rumah, dll. Tidak termasuk : investasi, hiburan, pakaian, cicilan rumah, cicilan mobil, cicilan kartu kredit dan pengeluaran non rutin lainnya.
Mengubah data berarti manipulasi data, sebaiknya jangan dilakukan. Saya sarankan melakukan pendekatan lain, seperti yang dilakukan unilever yaitu mendata kepemilikan kendaraan dan barang-barang elektronik.
Semoga bisa membantu
Salam!
Salam Kenal Pak Zebua,
Pak apakah HHE ini memilki korelasi dengan range Pendapatan perbulan. Apabila ada, mohon kiranya bapak bisa menunjukkan linknya.
Kemudian berapa persentase penduduk yang dapat digolongkan kedalam HHE ini pak. Baik Jabotabek maupun non Jabotabek.
Terima Kasih, data ini saya perlukan untuk riset & studi saya.
Yugo
terimakasih atas penjelasannya pak Zebua yang baik,
ternyata perubahannya jauh diatas std yang selama ini saya pegang: A. >1.750 K; B 1.250K-1.750K; C 800K-1.250K. Maybe data saya udah jadul banget ya…? terus, cakupannya juga agak beda, selama ini uang sekolah tidak termasuk dalam hitungan. sedangkan pengeluaran utk hiburan/jajan di luar saya asumsikan sebagai pengeluaran untuk konsumsi. duh, persepsi saya selama ini lumayan salah deh, karena saya juga mendapat refensi dari laporan konsultan riset yg selama ini dipakai perush. Apakah ada file/link yang memuat ketentuan yang baru ini pak? soalnya biasanya atasan meminta bukti referensi yang dapat dipakai utk mengubah std yang selama ini dipakai. Sekali lagi terima kasih.
Salam kenal Yugo
Hmm saya tidak berani mengatakan ada korelasi antara HHE dengan Income per bulan, karena belum pernah saya buktikan berdasarkan data empiris. Tapi secara teoritis sih harusnya ada ya, karena makin besar pendapatan biasanya gaya hidup makin tinggi otomatis pengeluaran makin besar. Dan sayangnya yang diukur oleh Nielsen hanya pengeluaran jadi tidak dapat dilakukan uji korelasi/asosiasi karena variabel pendapatannya tidak ada.
Menurut Nielsen, hingga tahun 2008, jumlah populasi (hasil proyeksi) berdasarkan “SES” untuk 9 kota di Indonesia (Jabodetabek, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makasar, Palembang, Denpasar, dan Yogyakarta) adalah : A1 (1.766.000), A2 (2.972.000) B (6.557.000), C1 (9.601.000) C2 (9.493.000) D (7.643.000) dan E (4.408.000)
Semoga Membantu
Terimakasih atas penjelasannya Pak Zebua yang baik,
ternyata pedoman saya selama ini jauh berbeda: A. > Rp 1.75K; B Rp 1.25 K – 1.75 K dan C 800 K-1.25K.
Cakupannya juga agak beda, yaitu biaya sekolah dan BBM tidak termasuk, sedagnkan makan di luar dianggap termasuk konsumsi. Oh, ya, apakah sewa rumah tidak sama dengan cicilan rumah?
Sebenarnya pedoman pokoknya apa sih yntuk menjelaskan ke responden mengenai mana yang termasuk or tidak termasuk hitungan pengeluaran tsb? apakah ada pedoman/aturan resmi yang dpt sbg referensi tertulis?
terimakasih banyak atas bantuannya.
salam
esti
Kebetulan kami berlangganan data Nielsen. Sepertinya sih datanya tidak dipublish, jadi tahunya kalau bukan dari data Nielsen (beli) ya “bocoran” seperti ini.
Sebenarnya kalo butuh referensi harus langsung ke Nielsennya. Tapi ngga tahu musti bayar atau tidak, tapi biasanya mereka punya newsletter yang menginformasikan berita-berita terbaru seputar Nielsen termasuk perubahan SES ini. Cuma saya belum dapat, kalo dapat mungkin saya bisa faks, tapi ngga janji kapan
Pada prinsipnya hutang tidak termasuk, sewa rumah kan bukan termasuk hutang.
Biasanya di kita hanya cukup menjelaskan ke responden apa yang termasuk dan tidak (di kuesionernya kita cantumkan) memang tidak ada jaminan si responden menjawab dengan tepat, apalagi jika surveynya “todongan” alias intercept. Kalau di rumah mungkin bisa karena tidak buru-buru. Standar yang saya sebutkan merupakan standarnya Nielsen, tapi mungkin mau cari referensi alternatif ada, misalnya di buku-buku tentang perilaku konsumen
Salam
Salam kenal …
Saya setuju dengan gagasan HHE. Jadi kita bisa semakin bersyukur kalo HHE dikategorikan semakin besar. Cuma saya mau tanya bagaimana dengan saldo akhir bulan. Karena ada banyak orang masuk HHE yang besar, tapi saldo akhir bulannya nol (saya aja dech contohnya).
Mungkin ada gagasan lain Pak ? Sementara saya juga masih coba mikir.
Terima kasih. Salam
salam kenal Mr. Soni. Soal saldo akhir bulanan sebagai indikator HHE boleh juga. Tapi kendala yang dihadapi adalah respondent error. Pasti akan cenderung menolak karena merasa diaudit, atau lebih besar peluang menjawab secara tidak jujur. Home appliance audit mungkin lebih mudah dilakukan. Ini sudah diterapkan oleh Unilever katanya. Dibatasi misalnya untuk perabotan yang harganya minimal 1 juta per unit.
monggo kalo sudah ada idenya dishare disini
Terima kasih atas kunjungannya
Terima kasih ya pak, berkat anda saya jadi tahu klasifikasi segmentasi pasar indonesia based on pendapatan masing-masing kelas (buat tugas kuliah nih..). Tapi saya rasa data AC nielsen tsb udah sangat gag valid. Masa’ kelas A+ atau A1 “cuma” expend pengeluaran rutin di atas 3,5 juta ..??
Saya pribadi dari keluarga biasa2 aja, buat uang kul tiap bulan 1,5 jt, uang jajan pribadi (padahal saya ini 4 bersaudara) hampir 1 juta tiap bln, belum air, listrik, telpon (hp, cdma, dll), gaji pembantu 2 orang, dll.. wuih.. ya gag mungkin lha “cuma” 3,5 juta.. Hello!! taun 2008 gitu loh! Saya setuju dgn anda range nya perlu diperbaiki (walaupun sudah diganti menjadi HHE, tetep gag rasional)
oh ya, kalau mau cari data ttg segmentasi pasar mengacu pada life style serta penggunaan, motivasi dan pola pembelian produk (seperti yang ditulis oleh saudara hermin), di mana ya??
Ada yg bisa membantu saya ??
Terima kasih
Thanks for sharing SES AC Nielsen 2008. Sangat membantu untuk skripsi saya. Ada rujukannya ga untuk daftar pustaka? Blog anda sudah saya cantumkan di daftar pustaka saya juga