Hasil resmi Pilkada DKI Jakarta telah dikumandangkan oleh KPUD DKI Jakarta sehari sebelum perayaan hari kemerdekaan RI ke-62. Seperti yang telah diramalkan, pemenangnya adalah “Bang Kumis” alias Fauzi Bowo dan pasangannya Prijanto. Fauzi-Prijanto meraih 57,87% suara sedangkan rivalnya pasangan Adang-Dani meraih sisanya, 42,13%. Persentase ini diperoleh dari 3.645.066 suara sah yang tersebar di 11.202 TPS.
Kemenangan Fauzi-Prijanto berhasil “ditebak” melalui metode quick count beberapa jam setelah perhitungan suara selesai dilakukan di masing-masing TPS. Ada tiga lembaga penelitian dan satu media cetak yang mempublish hasil perhitungan quick countnya secara resmi di media massa. Mereka adalah LP3ES (Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial), Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Lembaga Survei Indonesia (LSI) dan Litbang KOMPAS.
Para pelaku quick count di atas mengambil sampel dengan jumlah berbeda, sehingga nilai sampling error-nya juga berbeda-beda. Meskipun tehnik samplingnya sama menggunakan tehnik penarikan sampel multitahap tapi saya yakin strategi pembentukan strata atau clusternya berbeda-beda. Strategi ini didasarkan pada pemahaman mereka terhadap karakteristik populasi dalam hal ini pemilih terdaftar /potensial Pilkada DKI 2007. Banyak faktor yang berpeluang menjadi pertimbangan pemilihan strata atau cluster, misalnya kepadatan penduduk, wilayah kekuasan partai politik, proporsi jenis kelamin, proporsi pendatang dengan penduduk asli, dll. Nah, kemampuan mendeteksi variasi karakter popoluasi ini yang berperan signifikan menentukan presisi hasil quick count, selain faktor-faktor non sampling error. Strategi pembentukan strata atau cluster ini merupakan rahasia dapur masing-masing pelaku quick count yang hampir dipastikan tidak akan pernah dipublikasikan, top secret man!
Pada Pilkada DKI 2007 LP3ES mengambil sampel sebanyak 400 TPS, LSI (Lingkaran) sebanyak 260 TPS, LSI (Lembaga) sebanyak 400 TPS dan Litbang KOMPAS sebanyak 250 TPS. Dengan asumsi tingkat kepercayaan 95%, proporsi populasi 50:50 (sangat heterogen), jumlah populasi 11.202 maka sampling error dari penarikan sampel tersebut berturut-turut adalah : ± 4,8%, ± 6%, ± 4,8%, dan ± 6,1%. Terlihat bahwa semakin banyak jumlah sampel semakin kecil nilai sampling errornya, secara teori statistika berarti pelaku quick count dengan nilai sampling error terkecil diharapkan memiliki tingkat presisi tinggi. Namun kenyataan berbicara lain, ternyata Litbang KOMPAS yang tampil dengan sampling error terbesar menghasilkan tebakan terpresisi. Lha, kok bisa? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut mari kita lihat perbandingan hasil quick count dengan hasil resmi perhitungan KPUD DKI :
LP3ES = Adang-Dani 42,40%, Fauzi-Prijanto 57,60% ; LSI (Lembaga) = Adang-Dani 43,88%, Fauzi-Prijanto 56,12% ; LSI (Lingkaran) = Adang-Dani 41,41%, Fauzi-Prijanto 58,59% ; Litbang KOMPAS = Adang-Dani 42,24%, Fauzi-Prijanto 57,76% dan hasil resmi KPUD DKI = Adang-Dani 42,13%, Fauzi-Prijanto 57,87%.
Selisih perolehan suara masing-masing pasangan kandidat adalah sebesar : LP3ES = 15,20% ; LSI (Lembaga) = 12,24% ; LSI (Lingkaran) = 17,18% ; dan Litbang KOMPAS = 15,52%. Sedangkan hasil resmi menunjukkan selisih sebesar 15,74%. Jika dihitung selisih dari selisih perolehan suara masing-masing pasangan kandidat versi para pelaku quick count dengan selisih hasil resmi KPUD DKI, hasilnya adalah : LP3ES = 0,54% LSI (Lembaga) = 3,50% ; LSI (Lingkaran) = 1,44% ; dan Litbang KOMPAS = 0,22%. Terlihat Litbang KOMPAS memiliki selisih nilai terkecil alias paling mendekati hasil resmi alias paling presisi!
Menarik sekali mencermati fenomena di atas, Litbang KOMPAS dengan jumlah sampel terkecil berhasil meraih angka presisi tertinggi! Padahal secara teori statistika dengan jumlah sampel yang lebih sedikit Litbang KOMPAS berpeluang lebih besar mengalami error dalam menebak hasil Pilkada DKI. Hmm berarti teorinya salah donk, tidak! teori statistika tidak salah karena hasil quick count Litbang KOMPAS masih dalam range sampling error-nya, yaitu sebesar ± 6,1%. Sampling error adalah perbedaan antara nilai sampel (statistik) dengan nilai populasi (parameter) sebagai konsekuensi dari tidak disurveinya seluruh anggota populasi. Seandainya kita tidak mengetahui hasil sebenarnya dari Pilkada DKI maka berdasarkan data sampel, hasil quick count Litbang KOMPAS dapat diinterpretasikan sebagai berikut : bahwa Litbang KOMPAS yakin 95% berdasarkan quick count selisih perolehan suara pasangan kandidat Pilkada DKI antara 9.42% (15,52%-6,1%) s.d. 21,62% (15,52%+6,1%), sedangkan peluang selisih perolehan suara di luar range tersebut hanyalah 5%. Ternyata, selisih resmi adalah sebesar 15,74%, masih dalam range bukan?.
Lalu apa yang membuat hasil quick count Litbang KOMPAS lebih presisi daripada tiga “rival-nya”? Saya yakin ini adalah masalah non sampling error, Litbang KOMPAS berhasil menekan kontribusi non sampling error dalam kegiatan quick countnya kali ini. Terutama dalam mendisain strategi penarikan sampel, Litbang KOMPAS sepertinya lebih memahami karakter populasi calon pemilih DKI Jakarta sehingga berhasil menyusun suatu disain sampling yang representatif. Sayangnya memang non sampling error tidak dapat dihitung seperti halnya sampling error, tapi jangan dianggap remeh justru non sampling error adalah biang kerok utama alias kontributor terbesar terhadap total error dalam suatu kegiatan penelitian.
Selamat untuk Litbang KOMPAS! Kita tunggu hasil-hasil quick count berikutnya dengan tingkat presisi yang semakin tinggi…


