Setelah kegiatan pengumpulan data melalui angket/kuesioner maka proses selanjutnya pada sebuah survei adalah mengolah data tersebut menjadi informasi. Mengolah data berarti melakukan koding, tabulasi dan analisis-analisis statistika yang relevan. Adalah suatu syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar bahwa data yang siap olah harus “bersih”, telah divalidasi sehingga kecil peluang akan menghasilkan informasi yang menyesatkan. C.A. Moser dalam bukunya “Survey Methods in Social Investigation” mengemukakan prinsip-prinsip sederhana yang harus dipegang pada saat “bersih-bersih” data yaitu : Completeness, Accuracy, dan Uniformity yang disingkat dalam sebuah akronim, “CAU”!
Completeness
Hal pertama yang harus diperiksa pada sebuah kuesioner adalah kelengkapan. Apakah responden telah mengisi setiap pertanyaan pada kuesioner, tidak ada yang terlewat? Terutama pertanyaan-pertanyaan yang dapat/harus dijawab oleh seluruh responden, alias tidak mengandung syarat. Misalnya usia, jenis kelamin, pekerjaan, pendidikan, alamat, dll. Atau pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan untuk mengsegmentasi responden. Misalnya dengan menggunakan metode VALSTM. Metode ini mengharuskan responden untuk merespon seluruh pertanyaan yang diukur menggunakan skala Likert, jika ada satu saja pertanyaan yang tidak direspon akan menggugurkan seluruh pertanyaan lainnya (baca : tidak dapat dianalisis).
Ketidaklengkapan pada sebuah kuesioner umumnya disebabkan oleh faktor non sampling error secara spesifik oleh faktor no response error. No response error terjadi karena responden menolak untuk menjawab, mungkin karena pertanyaan yang terlalu personal, kelelahan (respondent fatigue), atau responden tidak memahami pertanyaan. Jika masih dimungkinkan segera dilakukan konfirmasi kepada responden yang bersangkutan, jika konfirmasi tidak mungkin dilakukan berarti pertanyaan tersebut dapat dikategorikan sebagai missing value, dan ditangani dengan tehnik-tehnik khusus. Karena jika asal diisi sendiri oleh surveyor atau peneliti itu berarti memanipulasi data.
Accuracy
Setelah kelengkapan diperiksa selanjutnya adalah memeriksa keakuratan jawaban-jawaban responden. Keakuratan tidak sama dengan kejujuran. Kejujuran adalah “hak” responden. Tidak mudah medeteksi ketidakjujuran responden. Jika usia sebenarnya seorang responden adalah 40 tahun namun dia menuliskan 30 tahun, maka kita harus menerimanya sebagai “kebenaran” sejauh kita tidak bisa mengklarifikasinya. Sedangkan keakuratan terkait dengan konsistensi dan “kewajaran” dari jawaban-jawaban responden. Mengecek konsistensi lebih mudah daripada mengecek apakah jawaban responden wajar atau tidak.
Misalnya dalam sebuah kusioner ada pertanyaan “apakah anda seorang perokok?”, jika ya “berapa batang rokok yang Anda hisap kemarin?”. Ternyata pada saat diperiksa, responden menjawab “tidak” tetapi memilih pilihan jawaban “a. 1-5 batang” pada pertanyaan selanjutnya. Jelas ini tidak akurat! Alias tidak konsisten. Kemungkinan besar dia sebenarnya adalah perokok, namun salah memilih jawaban pada pertanyaan sebelumnya. Tapi bagaimana jika misalnya seorang yang mengaku pekerjaannya adalah seorang office boy namun berpenghasilan 10 juta rupiah perbulan, alamak hebat kali, kalah gaji senior manager perusahaan menengah! Jawaban ini sepertinya ngga masuk akal, alias ngawur, tapi bagaimana jika seandainya memang demikian, si office boy ternyata punya pabrik tahu
Sulit bukan? Karena menilai kewajaran jawaban responden dibutuhkan kepekaan yang tinggi. Jika survei dilakukan secara face to face berarti kita sangat mengandalkan sensitifitas surveyor yang secara reflek mengkonfirmasi kepada responden jika “radarnya” mendeteksi ketidakwajaran pada jawaban responden. Kepekaan surveyor dapat dihasilkan oleh briefing yang baik dan jam terbang yang tinggi. Bagaimana jika dilakukan secara tidak langsung, mail survei misalnya? Ya “terima nasib” karena itu memang kelemahan dari survei yang dilakukan secara swadiri (self administer).
Uniformity
Hal terakhir yang harus diperiksa adalah memastikan surveyor memiliki interpretasi yang sama/seragam terhadap pertanyaan dan instruksi pada kuesioner. Pemahaman yang baik dan seragam terhadap pertanyaan dan instruksi pada kuesioner akan mereduksi bahkan mengeliminasi faktor ketidaklengkapan dan ketidakakuratan. Misalnya dalam sebuah survei ritel (audit ritel), surveyor harus memahami dengan baik kode-kode yang telah disepakati. Jika si penjual mengaku menjual merek “X” namun surveyor tidak melihat fisik barang tersebut dia harus menuliskan kode “TAF”, alias tidak ada fisik. Atau si penjual tidak menjual merek “Y” padahal produk tersebut sangat laris dan dicari banyak orang maka surveyor harus menuliskan “TA” alias tidak ambil. Atau kita mencurigai sebuah produk telah lama ditarik dari pasaran namun surveyor melihat fisiknya maka dia harus menuliskan “AF” alias ada fisik.
Atau contoh lainnya, jika responden mengaku berlangganan sebuah majalah (membayar di muka untuk beberapa edisi sekaligus) maka responden harus dipastikan tidak menjawab pertanyaan apakah dia mengalami kesulitan atau tidak saat mencari majalah tersebut di kios, karena sebagai pelanggan dia tidak perlu harus ke kios karena akan diantarkan ke kediamannya!
Jadi jangan lupa “CAU” agar data tak kacau
Komentar Terakhir